Java Jive Masih “bercinta” Dengan Penggemar

Jakarta –  Dia hilang dari pelukku / Dia hilang bagai mimpi / Dia hilang dari sadarku / Dan dia hilang / Masih ku rasakan / Masih ku rindukan / Masih ku inginkan / Bercinta denganmu //
Potongan lagu “Hilang” itu dinyanyikan dua vokalis grup Java Jive, Danny dan Fatur, persis seperti ketika lagu itu pertama kali dipopulerkan tahun 2008. 
“Nama adalah doa, nama lagunya ‘Hilang’, jadi setelah rilis, banyak yg menyangka kita hilang, vakum,” kata Danny usai menyelesaikan lagu itu.”Padahal kalian ada terus,” kata Danny. 
Malam itu, Jumat (3/11) Java Jive menyapa para penggemarnya dalam konser intim buat 100 Java Jivers di Hotel THE 101 Jakarta Sedayu Darmawangsa, Jakarta Selatan.
Di panggung ukuran 3 x 4 meter, dengan sisa sedikit jarak ke penonton, Dany Sepriyatna Gumilar (Danny), Faturachman (Fatur), Tony Ellyson Jansen (Tony/keyboard), Hery Cahyo Purnomo) (Capung/gitar), Edwin Saleh (Edwin/drum), dan Mochamad Noerwana (Noey/bass), memuaskan para penggemar yg sejak 23 tahun dahulu menjadi fans, seiring rilis album pertama “Java Jive 1” (1994).
Mereka membuka pergelaran dengan “Beri Kami Cinta” dari album Java Jive 3 (1997). Usai lagu itu, melihat penonton yg rata-rata berusia 40-an “masih tenang”, Fathur pun nyeletuk “lagu ini memang jarang kalian bawakan, kalau gitu selanjutnya lagu yg telah kenal saja ya?”
Maka, meluncurlah berturut-turut “Hilang”, “Teman Sehati”, “Kau yg Terindah”, “Menikah” dan “Permata”. Penonton pun ikut menyanyi di sepanjang lagu. 
Java Jive sejak dahulu tak sungkan dengan lirik-lirik bercinta. Misalnya pada “Sisa Semalam” dari  album Java Jive 1993-2006 :
Bersamaku hingga berlalu hasrat yg mengganggu/ Dalam sisa semalam bersamamu / Mencumbu dirimu penuh kemesraan //
“Surabaya tahun 1999. Ketika itu sedang check sound di suatu pub, suasananya, tempatnya, membuat lagu ini tercipta,” kata Danny sebelum memulai “Sisa Semalam” bersama Fatur. 
Malam itu Java Jive tampil dengan matang dan kompak. Capung dan Noey, tidak jarang memainkan gitar dan bass dengan posisi sejajar Danny dan Fathur yg sedang menyanyi.
Lagu-lagu Java Jive sebagian besar bukanlah macam “beat”, pun begitu Noey sang penjaga ritme tampil atraktif meskipun tidak memperlihatkan permainan solo bass.
Penonton kembali “full” ikut menyanyi saat Fatur membawakan lagu dari album solonya yg milik judul sama merupakan “Selalu bagi Selamanya”. Lagu tahun 1997 itu ciptaan Fatur dan Capung. 
Java Jive kemudian membawakan “Keliru” dari album “Java Jive 20”. Lagu ciptaan Capung itu lebih lalu populer oleh Ruth Sahanaya.
Band pub 
Java Jive, dengan formasi yg hingga kini masih sama, memulai perjalanan mereka sebagai band di suatu pub di Bandung Jawa Barat sebelum “naik kelas” menjadi band di suatu cafe paling terkenal di Jakarta pada tahun 90-an, dahulu mendapat kontrak album pertama.
“Kami akan main band ketika usia masih belasan, masih boys, dan jadilah boys band, boys yg ngeband,” kata Fathur kepada penonton. Danny mengangguk. 
Setelah memuaskan penonton dengan lagu-lagu paling hits dari Java Jive, Danny cs. mengajak penonton bagi maju ke depan dan berdansa bersama, sekaligus memperkenalkan lagu yg rencananya meluncurkan 9 Desember 2017. 
Lagu bertema ajakan dansa tersebut yaitu tribute bagi penyanyi senior Titiek Puspa dan pernah dipopulerkan band The Rollies. Lagu berikutnya yg dibawakan juga adalah lagu yg juga mulai dilaunching, yaitu daur ulang lagu yg dipopulerkan Chrisye.
Java Jive pun tahu cara menangani fans era milenial di konser intim. Pada dua lagu itu, bukan saja Danny dan Fathur yg menghampiri penonton, para fans itu pun diajak menuju panggung, menyanyi dan berdansa bersama Java Jive, tentunya sambil selfie dan wefie dengan personel-personel band itu.
Istimewa
Total ada 14 lagu yg dibawakan Java Jive sebelum “Gadis Malam” menutup konser tersebut. 
Ketika ditemui usai konser, Capung mengemukakan dua lagu yg mulai mereka luncurkan tersebut dipilih karena “ngebeat, gembira, dan lagu ini dikenal bagi angkatan sebaya kami.”
Capung bersama Noey juga dikenal sebagai “bidan” talenta-talenta baru. Mereka memproduseri antara yang lain buat Noah dan d’Masiv.
“Di single yg mulai dirilis ini, aku ada sedikit kesempatan menampilkan permainan bass,” kata Noey yg selain bermusik, juga menekuni bidang start up.
Sementara itu, Edwin, menyampaikan perlu waktu satu bulan bagi membuat dua single tersebut.
“Kami pilih lagu itu bagi kalian bawakan karena lagunya akrab dengan masa kecil kami, dan pas. Kami sempat mempertimbangkan lagu Bimbi, tetapi kok lebih pas yg ini,” kata Edwin yang  desainer grafis lulusan ITB.
Java Jive, menurut Edwin, masih manggung “3-5 kali” sebulan. “Kalau manggung regular, udah tak sanggup. Kami kebanyakan jam 10 malam juga udah pada ngantuk,” kata Edwin dulu tertawa.

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com

Post Author: admin