Makna Film “Hujan Bulan Juni” Bagi Sutradara Reni Nurcahyo

Manado – Film “Hujan Bulan Juni” yg nanti dirilis 2 November 2017 mendatang tidak cuma sebatas cinta dan rasa, tapi makna yg lebih personal yakni hadirnya sebuah komitmen pilihan dan tanggung jawab, kata Sutradara Reni Nurcahyo Hestu Saputra.

“Tugas aku adalah mengalihwahanakan puisi dan novel ke dalam bentuk film layar lebar terus menemukan tantangan dan pencapaian kreatif baru,” kata Reni di Manado, Senin.

Film yg diangkat dari novel “Hujan Bulan Juni” ini menceritakan Pingkan (Velove Vexia), dosen muda sastra Jepang Univesitas Indonesia (UI) yg mendapatkan kesempatan belajar ke Jepang selama dua tahun.

Sarwono (Adipati Dolken) nelangsa mendengar kabar ditinggal Pingkan yg selama ini tak pernah lepas dari sampingnya.

Sarwono ditugaskan Kepala Program Studi presentasi ke Universitas Sam Ratulangi Manado, Pingkan pun diboyong menjadi guide selama berada di sana.

Pingkan bertemu keluarga bersar almarhum ayahnya yg keturunan Manado, dan akan dipojokkan oleh pertanyaan tentang hubungannya dengan Sarwono berkaitan dengan perbedaan yg di mata mereka sangat besar.

Bukannya Pingkan dan Sarwono tak menyadari, tapi keduanya telah terlanjur nyaman menetap bertahun-tahun di ruangan kedap suara yg bernama kasih sayang, apakah ini mulai menjadi perjalanan perpisahan keduanya?

Menurut Reni, sebagai film dengan pendekatan komunikatif tak gampang direalisasikan dengan desain kreatif yg telah direncanakan agar hasilnya dapat diterima penonton dan awal lahirnya gagasan, terbentuk melalui kejujuran bertutur pada serapan makna atas kehadiran puisi “Hujan Bulan Juni” yg dibaca.

“Kejujuran itu juga pergumulan kreatif yg aku ciptakan ke dalam konsep penyutradaraan film ini. Konsep ini kemudian dikuatkan dengan dasar cerita dari novel Hujan Bulan Juni sebagai latar belakang embrio puisi tema serupa karya Sapardi Djoko Darono,” ujarnya.

Selanjutnya, Produser Avesia Soebli merunut, pada suatu sore, usai mengikuti salah satu mata kuliah di pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dirinya menyapa Sapardi Djoko Damono (SDD) dan menyodorkan novel “Hujan Bulan Juni” buat ditandatangani.

“Sambil menyodorkannya aku berkata izinkan aku memfilmkan novel ini,” kaya Avesia.

Persinggungan secara fisik dengan SDD, lanjut dia, baru dua semester.

Meski begitu, puisi-puisi SDD tidak jarang dibacakannya dalam berbagai lomba sajak saat masih remaja.

“Betapa bahagianya aku saat pak Sapardi menjawab silakan dan menjabat tangan saya,” kenangnya.

Setelah mendapatkan restu SDD, Avesia harus mempertanggungjawabkan proses alihwahana ini.

Dalam menggarap film “Hujan Bulan Juni”, Avesia ditemani sederetan nama seperti Rayi Aurora (pecinta puisi), Reni Nurcahyo Hestu Saputra (sutradara), Titien Watimena (penulis skenario), Tina Talisa (Sinema Imaji) dan Chand Parwes Servia (Starvision).

“Saya harus berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Universitas Sam Ratulangi, Bank SulutGo, Univesitas Indonesia serta teman-teman crew produksi film Hujan Bulan Juni dan orang-orang yg mendukung film ini dengan suka cita,” ujarnya.

Dirinya berharap, film yg sebagian besar bersentuhan dengan lokasi shooting di Sulawesi Utara mendapatkan sambutan warga berpenduduk lebih dari 2,5 juta jiwa itu.

Editor: Ida Nurcahyani

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com

Post Author: admin