Mulai Dikenal, Apakah Layanan Streaming Seperti Iflix Akan Menggeser Bioskop?

Kamu yg berlangganan televisi kabel di rumahmu, kemungkinan besar telah tahu dengan iflix. Ya, ini adalah layanan streaming yg berkantor pusat di Kuala Lumpur, Malaysia. Iflix sendiri telah memiliki sekitar 5 juta subscribers di segala dunia per bulan Oktober 2017 ini.

Layanannya pun beragam, dimana kamu mampu melihat serial-serial maupun film yg berasal dari barat, asia, Korea maupun dari tanah air. Tak heran seandainya iflix digemari, khususnya oleh anak-anak muda yg gemar menonton film atau serial.

Dikabarkan pula seandainya penonton iflix di tanah air lebih memilih bagi menonton film dari smartphone mereka. Drama Korea pun menjadi tontonan favorit mereka, disusul drama Hollywood dan film Indonesia, lihat trend reportnya di sini.

Lantas, apakah iflix bisa ‘mengganggu’ eksistensi bioskop? Sekedar diketahui, bioskop telah hadir di Indonesia sejak tahun 80-an, mungkin lebih awal. Bahkan jaringan bioskop terbesar di tanah air, Cineplex 21 pertama kali diluncurkan pada tahun 2987 oleh bapak Sudwikatmono.

Sejak ketika itu, kalian mengenal bioskop sebagai sarana bagi menonton film-film barat atau Indonesia yg sedang ngehits. Tak ada yg menyaingi bioskop, karena pemutaran perdana film harus melalui bioskop dahulu, apalagi buat film-film besar. Memang ada bisnis rental film dan sebagainya, namun film-film yg dirental tersebut adalah film yg terlebih dulu keluar dari boskop.

Lalu, hadirlah layanan streaming online yg lumayan mengubah peta permainan. Dimulai dari Netflix yg memulai layanan streaming pada tahun 2007, dan impact yg dilakukannya cukup besar, salah satu alasannya adalah kemudahan yg ditawarkan. Jika lalu kamu ingin menonton film, kamu harus repot-repot pergi ke rental DVD, milih film, bayar parkir, jalan ke mobil, nyetir mobil, pulang kerumah, baru disetel di player. Dengan layanan streaming online, cuma butuh streaming box yg terkoneksi ke televisimu dan sebuah remote, done. Kamu mampu memilih film apapun yg kamu suka, dan tonton segera ketika itu juga, tanpa harus kamu menggeser pantat dari sofa.

Di Indonesia sendiri iflix lebih dikenal ketimbang Netflix, karena sebelumnya sempat diblokir oleh Telkom karena belum ada persetujuan dengan pemerintah Indonesia (sekarang telah dibuka kembali).

Lantas, apakah layanan streaming online ini mempunyai kans besar buat ‘melenyapkan’ bioskop? Mari kami hitung kasar saja, pengguna iflix di tanah air setidaknya ada 2 juta subscribers. Penonton bioskop lebih banyak dari jumlah subscribers iflix ini. Kami ambil contoh dari film terlaris tanah air tahun ini, PENGABDI SETAN yg jumlah penontonnya 4,2 juta orang. List film dengan penonton terbanyak lainnya dapat kamu simak di sini.

Dari sini sekilas kelihatan seandainya penonton bioskop masih lebih unggul dari iflix. Coba kami bandingkan dari trend report di atas. Walau ‘hanya’ 2 juta subscribers, namun total minute play mereka adalah 12 juta menit, dan itu data buat sehari saja! Bahkan kabarnya iflix sukses menembus 10 miliar menit pada tahun 2017 ini. Sedangkan film Indonesia, lagi-lagi kalian ambil sample dari PENGABDI SETAN yg durasinya sekitar 107 menit. 4,2 juta dikali 107 menit menghasilkan 449 juta minute play.

Namun yg harus kamu perhatikan, streaming service memiliki keunggulan dalam banyaknya konten. Ada ratusan film dan serial yg mampu kamu tonton melalui layanan streaming service ini. Netflix sendiri pada tahun 2016 dulu malah telah merilis sekiranya 126 serial original atau film. Jumlah tersebut adalah yg paling banyak dari kompetitornya. Sedangkan iflix tahun ini menampilkan MAGIC HOUR the series yg rilis eksklusif, serta film FILOSOFI KOPI 2: BEN & JODY.

Dari sisi harga, streaming service juga memiliki keunggulan. Kami cek melalui aplikasi pembayaran Tokopedia, iflix mampu dinikmati perbulan dengan harga 39.000 rupiah saja. Sedangkan seandainya kamu ke bioskop, paling tak kamu harus menyiapkan uang sebesar 50.000 rupiah perfilmnya.

Dengan segala perbandingan ini, apakah streaming service memiliki potensi bagi menggusur bioskop ke depannya? Dilihat dari potensinya, ada kemungkinan besar buat streaming service bagi mengambil pamor bioskop, apalagi mengingat audiens muda masa kini yg yaitu generasi milenial yg cenderung suka dengan segala yg berbau instan, dan streaming service dianggap cocok dengan gaya generasi ini karena simpel dan cenderung tak ribet.

(kpl/frs)

Sumber: http://www.merdeka.com

Post Author: admin