Sineas Muda Yang Patut Dilirik Penikmat Film Indonesia

Seiring berkembangnya jaman, industri audio visual terutama film semakin menyeruak ke kalangan masyarakat. Film sendiri sudah mendapat tempat di kalangan penikmatnya. Sehingga banyak anak muda yg mengarahkan ketertarikannya ke dalam seni audio visual. Tak heran sekarang banyak sineas muda yg akan bermunculan.

Tidak kalah dengan para seniornya, kini sineas muda sudah bisa memberikan kontribusinya terhadap dunia perfilman Indonesia. Dengan adanya wajah baru di perfilman Indonesia diharapkan mereka mampu menjadi angin segar mulai karya-karya yg dibuatnya. Dari banyaknya sineas di Indonesia, berikut adalah beberapa sineas muda yg sudah mendapatkan beberapa penghargaan di ajang kompetisi film.

1. Wregas Bhanuteja

Raphael Wregas Bhanuteja, begitulah nama lengkap dari sutradara muda yg sudah mendapatkan penghargaan dari beberapa film yg dibuatnya. Wregas akan mengenal dunia film ketika bersekolah di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Ketertarikannya ke dalam dunia perfilman membuatnya buat melanjutkan kuliah di IKJ dengan mayor penyutradaraan. Di situ ia akan mengasah kemampuannya membuat film-film pendek.

Film pendek pertamanya yg mendapat penghargaan di ajang bergengsi adalah film SENYAWA sebagai Best Short Film di Jogja-NETPAC Asian Film Festival di tahun 2012. Tidak sampai disitu Wregas selalu memproduksi berbagai film pendek. Berikut adalah beberapa film pendek karya Wregas, seperti film LEMBUSURA yg mendapatkan penghargaan Best Short Film di Berlin International Film Festival 2015, film FLOATING CHOPINF yg mendapatkan penghargaan di Hongkong International Film Festival 2016, film LEMANTUN yg berhasil mendapatkan tiga penghargaan sekaligus di XXI Short Film Festival 2016, merupakan sebagai Film Pendek Fiksi terbaik, Film Pendek Fiksi Pilihan IMPAS, dan Film Pendek Favorit.

Tidak cuma itu, film LEMANTUN juga sukses meraih sebagai Film Pendek Terbaik di Apresiasi Film Indonesia 2015, Film Pendek Terbaik, Piala Maya 2015 dan meraih posisi sebagai salah satu dari lima film terbaik Asia Micro Film Begonia Award di Linzhang, China pada tahun 2015.

Tidak kalah dengan film-film sebelumnya, film pendek terbaru Wregas yg berjudul PRENJAK juga berhasil mendapatkan beberapa penghargaan. Diantaranya Leica Cine Discovery Prize, Best Short Film, 55th Semaine de la Critique, Cannes Film Festival 2016, Cinema Nova Awards, Best Short Film, Melbourne International Film Festival 2016, Piala Citra, Film Pendek Terbaik, Festival Film Indonesia 2016, Silver Screen Awards, Best Short Film, Singapore International Film Festival 2016, dan Best Short Film, Prague Short Film Festival 2016. Dari film PRENJAK inilah akan melambungkan namanya. Wregas menjadi sineas muda yg diperhitungkan di dalam perfilman tanah air.

Di film PRENJAK yg berdurasi 12 menit ini Wregas ingin mengangkat kebudayaan seks lama. “Namun dikaitkan konteks kekinian, bercerita tentang perempuan yg membutuhkan uang kemudian dia menawarkan teman kerjanya sebatang korek api dengan harga Rp10 ribu dan temannya bisa melihat salah satu bagian tubuhnya,” kata Wregas kelahiran Jakarta 20 Oktober 1992 ini seperti yg dilansir di antaranews.com

2. Yosep Anggi Noen

Yosep Anggi Noen sejak kecil sudah menyukai dunia film. Berawal dari jarangnya keluarga yang lain yg tak memiliki televisi, setiap ingin menonton mereka berkumpul lalu di rumahnya. Dari situ Yosep Anggi Noen kecil menangkap bagaimana sebuah pesawat televisi dapat memiliki kekuatan bagi menarik dan mengundang orang-orang. Pengamatannya di waktu kecil tersebut begitu membekas untuk dirinya sampai sekarang.

Sutradara yg lebih akrab disapa Anggi ini menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Komunikasi Universitas Gadjah Mada dan membentuk sebuah organisasi yg diberi nama Kelompok 56. Awalnya Kelompok 56 ini adalah sebuah komunitas teater di SMAN 3 Yogyakarta, tempat Anggi lalu bersekolah. Kemudian berubah nama menjadi 56 Films yg bergerak sebagai media ekspresi untuk beberapa orang pengagum film. Kini 56 Films menjadi salah satu production house di Yogyakarta yg sampai sekarang masih aktif memproduksi karya.

Film-film pendek yg diproduksi Anggi bersama 56 Films diantaranya adalah HUJAN TAK JADI DATANG (2009), A LADY CADDY WHO NEVER SAW A HOLE IN HOLE (2013), RUMAH (2015), dan LOVE STORY NOT (2015). Di dalam film A LADY CADDY WHO NEVER SAW A HOLE IN HOLE ini Anggi menjadi sutradara sekaligus penulis skenario. Penghargaan yg diraihnya melalui film ini diantaranya adalah Best Short Film di Short Short Film Festival & Asia (2014), film pendek terbaik di Festival Film Solo (2014) dan film pendek terbaik di Busan International Short Film Festival (2013).

Namun Anggi lebih dikenal publik ketika menyutradarai film ISTIRAHATLAH KATA-KATA. Film produksi tahun 2017 ini bercerita tentang perjuangan penyair Wiji Thukul mulai kesendirian dan rasa rindu terhadap keluarga di ketika Wiji Thukul bersembunyi di Kalimantan. Riset ia lakukan lewat beberapa puisi dan tulisan dari Wiji Thukul. Film ini juga turut mendapatkan penghargaan antara yang lain dari Festival Film Indonesia, Usmar Ismail Award, dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

Yang dapat kalian cermati dari film garapan Yosep Anggi Noen ini bahwa hampir segala adegan dan detail didalam film berdasar pada realita. Bagi Anggi bagaimana kejadian yg biasa di kehidupan sehari-hari dapat di implementasikan menjadi sebuah adegan yg mendalam dan mampu menggoyahkan emosi penonton.

3. BW Purba Negara

Nama BW Purba Negara akan terkenal di kalangan dunia perfilman. Purba akan meniti kariernya lewat film-film pendek yg disutradarainya baik itu film fiksi maupun dokumenter. Tidak kalah dengan sutradara muda lainnya, alumni Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta ini juga diperhitungkan dalam kancah perfilman. Sudah banyak karyanya mendapatkan berbagai penghargaan nasional maupun internasional.

Inilah beberapa film pendek karya Purba yg sudah mendapatkan penghargaan, merupakan JERAT ASMARA (fiksi/2015), DIGDAYA ING BEBAYA (dokumenter/2014), KAMU DI KANAN AKU SENANG (fiksi/2013), BERMULA DARI A (fiksi/2011), SAY HELLO TO YELLOW (fiksi/2011), dan MUSAFIR (dokumenter/2008).

Di tahun 2017 Purba baru saja menyelesaikan karya terbarunya yg berjudul ZIARAH. Film tersebut yaitu film panjang pertamanya. Bercerita tentang seorang nenek yg mencari makan suaminya yg hilang ketika agresi militer Belanda II. Mbah Sri (tokoh utama) mencari makan suaminya karena ia ingin dimakamkan di sebelah makam suaminya. Film ZIARAH turut meraih prestasi dari berbagai penghargaan, seperti film terbaik pilihan juri dalam ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, skenario terbaik dalam ajang ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, film terbaik dalam Salamindanaw Film Festival 2016 di Filipina dan skenario terbaik versi Majalah Tempo 2016.

4. Arie Surastio

Siapa yg tak kenal dengan pria kelahiran Madiun 27 Juli 1985 ini, sejak kecil telah memiliki ketertarikan terhadap gambar bergerak. Sineas yang berasal Solo ini telah tak diragukan lagi kemampuannya. Tidak kalah dengan sineas muda lainnya, Arie juga patut diberikan apresiasi dari penghargaan-penghargaan yg ia raih.

Arie Surastio akan dikenal lewat filmnya yg berjudul POLAH, sebuah film yg diproduksi tahun 2014. Film tersebut berdurasi 10 menit. Lewat film POLAH Arie mengajak penonton buat memahami dunia mistis sebagai logika. Sebuah pola pikir alami dari bangsa ini dalam menyikapi dunia.

Kemudian di tahun 2016 Arie semakin produktif dalam pembuatan karya. Sebuah film pendek berjudul MUSIM BERPERGIAN dengan durasi 18 menit. Film ini menggambarkan sebuah keadaan persawahan yg semakin hari semakin sempit dan sepi.

Dari film MUSIM BERPERGIAN Arie sukses dan menembus penghargaan di kancah internasional. Arie berhasil menembus Pacific Meridian International Film Festival di Vladivostok, Rusia. Film tersebut masuk dalam nominasi The Best Short Film Award.

5. Wahyu Utami Wati

Sineas muda kali ini tiba dari kalangan wanita bernama Wahyu Utami Wati. Kerap disapa Uut, dia selalu memberikan eksistensinya di dunia film. Wanita kelahiran Wonogiri ini sudah berkarya membuat video sejak berkuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Uut sudah mendapatkan banyak pengalaman dari berbagai residensi yg diikutinya dalam skala nasional dan internasional. Selain itu Uut juga bekerja menjadi asisten sutradara di rumah produksi dalam pembuatan film maupun iklan. Disamping masih berkecimpung di dunia audio visual, Uut juga menjadi dosen di sebuah akademi film di Jogja.

Bentuk apresiasi tertinggi dalam berkariernya menjadi sineas adalah saat berhasil mendapatkan penghargaan di ajang Festival Film Indonesia, sebagai film dokumenter pendek terbaik di tahun 2017, lewat film garapannya yg berjudul THE UNSEEN WORD. Film dokumenter ini menceritakan sebuah kelompok ketroprak Distra Budaya dari akan persiapan sampai pentas. Distra sendiri singkatan dari Disabilitas Netra. Uut sendiri mengaku ada ketertarikan disaat menemui kelompok tersebut pertama kalinya di tahun 2014. Kemudian di tahun 2016 Uut kembali buat melakukan riset bagi dibuatkannya sebuah dokumenter.

Itulah tadi sedikit ulasan sineas muda berbakat Indonesia. Sineas muda tersebut memasuki perfilman Indonesia melalui berbagai karya film-film pendeknya. Mereka selalu produktif berkarya dan membanggakan Indonesia.

(kpl/gen)

Sumber: http://www.merdeka.com

Post Author: admin