Sinopsis Film ‘A MAN CALLED AHOK’, Masa Kecil Ahok Dan Perjuangannya Di Belitung

Kisah mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama atau yg biasa disapa Ahok mampu disaksikan lewat sebuah film biopik bertajuk A MAN CALLED AHOK. Menariknya, film yg diadaptasi dari buku karya Rudi Valinka ini tidak mengulas soal kejayaan dan keterpurukannya ketika menjabat di DKI Jakarta namun justru menyorot soal masa kecilnya di Belitung Timur.

BERITA TERKAIT
  • Sambut hari pahlawan, yuk kenang jasa para pahlawan lewat 10 film ini!
  • Pernah milik cita-cita jadi musisi? wajib banget nonton 10 film soal musik ini!
  • Sinopsis Film ‘A SIMPLE FAVOR’, Menguak Teka-Teki Hilangnya Blake Lively

A MAN CALLED AHOK mengisahkan soal kehidupan masa kecil Ahok (Daniel Mananta) di Gantong, Kepulauan Belitung Timur. Pekerjaan ayahnya yg seorang pebisnis tambang membuat kehidupannya ketika kecil tak pernah merasa kekurangan.

Hingga di tahun 80an, praktik korupsi di Indonesia semakin merajalela. Ayah Ahok, Tjung Kim Nam, pun merasakan betul pahit getirnya ketika berada di situasi rumit. Karena pengalamannya tersebut, ia menginginkan Ahok menjadi seorang dokter karena dianggap mampu memberikan pengaruh baik kepada orang lain.

Namun Ahok yg sedari kecil telah melihat sendiri bagaimana kejinya praktik korupsi yg merugikan ayahnya justru menginginkan hal yang lain dengan terjun sebagai politikus. Ia ingin mampu membawa perubahan dan memperjuangkan hak banyak orang. Dari situ lah awal mula sepak terjangnya dimulai. Bagaimana kehidupan Ahok di masa lalu? Temukan sendiri jawabannya di film A MAN CALLED AHOK yg telah tayang di bioskop kesayangan.

Meniru Suara Ahok

Daniel Mananta mendapat porsi besar di film terbarunya yg bertajuk A MAN CALLED AHOK. Berperan sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama atau yg akrab disapa Ahok, Daniel pun serasa mendapat tantangan baru. Lantaran memiliki warna suara yg berbeda, mantan VJ MTV ini justru tidak merasa kesulitan meniru Ahok.

“Suara bukan yg tersulit. Entah kenapa warna suara aku mirip. Dulu aku memang pernah kena musibah. Ada tumor di pita suara yg membuat suara aku serak. Ternyata hal Itu jadi berkat karena suara aku jadi mirip Ahok. Tapi aku memang tetap butuh 10 menit bagi mendalami Ahok bagi dapat keluarin suara itu,” ujar Daniel Mananta, ketika ditemui dalam acara press screening film A MAN CALLED AHOK, di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (5/11/2018).

Kesulitan Belajar Logat Belitung

Di film itu, Daniel Mananta harus fasih memakai logat Belitung. Hal itu lah yg jadi tantangan besar baginya. Demi totalitas dalam berperan, ia sampai rela menjalani proses reading selama enam bulan.

“Yang tersulit justru logat Belitung itu. Logat Belitung itu beda sama Malay. Biarpun sama-sama Bahasa Melayu tetapi Melayu Malaysia dan Belitung tuh beda. Saya ada logat Mandarin juga kan,” jelasnya.

Sulit Bayangkan Chemistry Ahok dan Keluarga

Saat mendalami perannya sebagai Ahok, Daniel pun rela menonton setiap pidatonya di Youtube. Selain soal logat dan bahasa, ia juga mengaku cukup kesulitan ketika harus membangun chemistry antara Ahok dengan keluarganya. Pasalnya hal itu sama sekali tidak ia temukan di media sosial manapun.

“Karena gue nggak pernah lihat mereka dan di Youtube juga nggak ada. Ketika beliau makan malam dengan ayahnya itu kan nggak mulai dapat kami dapatkan seperti apa shotnya karena ayahnya Pak Ahok sendiri juga telah meninggal. Ya itu sih tantangannya,” pungkasnya.

(kpl/tmd)

Sumber: http://www.merdeka.com

Post Author: admin