Anak Di India Dijual Sebagai Budak Seharga Rp100 Ribu

Biswanath, India – Waktu tingginya masih selutut orang dewasa, Badaik diajak ayahnya berpetualang. Mereka berjalan kaki menyusuri kebun teh, naik bus, kemudian sampai di “sebuah tempat”.

Saat anak perempuan itu melihat-lihat suasana, ayahnya lari pulang, meninggalkan Badaik seorang diri di depan pintu sebuah rumah gedongan.

Si ayah diketahui menjual anaknya sendiri seharga 500 rupee atau setara Rp100.000.

Badaik tumbuh sebagai pembantu rumah tangga di kawasan utara India, negara bagian Arunachai Pradesh, atau sekitar 50 km dari rumahnya di negara bagian Assam.

Pada 2016, Badaik akhirnya mampu melarikan diri. Dia memakai jalur yg biasa digunakan oleh para pelaku perdagangan anak bagi pulang dan akhirnya menemui ibu serta rumah lamanya.

“Mungkin aku sekarang berusia 16 atau 17 tahun,” kata dia kepada Reuters, ketika duduk di desa New Purubari di tengah perkebunan teh di distrik Bisnawath, Assam.

Dia lahir di distrik ini, namun milik sedikit kenangan soal tempat itu.

“Saya meninggalkan rumah ketika belum dapat mengingat, dan kembali setelah dewasa. Saya tak ingat siapa keluarga saya, rumah saya. Pelan-pelan aku ingin mengembalikan memori dulu,” kata Badaik.

Para penduduk desa bilang kalau Badaik beruntung ketemu jalan pulang.

Di sekitar perkebunan teh Assam, di mana para penduduk harus bertahan di tengah kemiskinan, ratusan ribu anak dikabarkan hilang, kata para aktivis lokal.

“Para pelaku dan bahkan terkadang anggota keluarga sendiri tidak jarang mengambil anak kemudian pergi,” kata Moni Darnal dari lembaga Jagriti Samiti yg fokus berkampanye anti-perdagangan anak.

“Mereka mengambil anak itu ketika masih berusia tiga atau empat tahun agar dapat dilatih melakukan tugas rumah tangga. Praktik ini menjadi norma sosial yg diterima,” kata Darnal.

Sensus nasional di India tahun 2011 mencatat lebih dari empat juta pekerja anak usia 5-14 tahun–angka global berkisar pada 168 juta. Namun jutaan anak-anak yang lain berpeluang mengalami nasib sama karena kemiskinan.

Lebih dari separuh budak anak itu bekerja di sektor pertanian. Seperempat lainnya di sektor manufaktur sementara sisanya membabu mencuci piring, memotong sayuran, dan mengepel lantai.

Anak-anak itu dijual dengan harga beberapa ratus rupee oleh para orang tua yg telah putus asa. Dalam beberapa masalah harga tersebut dapat mencapai ratusan ribu rupe (puluhan juta rupiah).

“Pada Senin, kalian menyelamatkan seorang anak dari rumah seorang mantan menteri,” kata Jumtim Minga, seorang aktivis anak.

“Sebagian besar para pembeli adalah tokoh-tokoh berpengaruh, banyak yg bekerja di pemerintahan. Mereka mempekerjakan anak karena tak harus membayar apapun. Anak tak banyak menuntut sehingga pemilik mampu memperlakukan mereka layaknya properti pribadi,” kata dia.

Badaik sendiri cukup beruntung karena sangat sedikit budak anak yg dapat kembali ke rumahnya.

“Pada hari-hari pertama, aku tak melakukan apa-apa. Hanya bermain di dalam rumah,” kata Badaik.

“Lalu aku diajari bagaimana mengupas bawang. Kemudian bagaimana menyapu dan mengepel lantai, serta mencuci. Semuanya dikerjakan bertahan, sampai usia delapan tahun aku mampu melakukan semuanya,” kata dia.

Badaik bekerja 17 jam sehari, tak boleh keluar rumah dan tak milik teman. Saat akan beranjak remaja, dia diberitahu gajinya sekitar 100 rupee atau Rp20.000 sebulan.

“Ibu majikan menyampaikan bahwa gaji itu disimpan di bank dan mulai menggunakannya ketika aku sakit atau butuh sesuatu,” kata dia.

Setelah kebetulan tak sengaja bertemu dengan sesama pembantu, Badaik akan mencari petunjuk pulang.

Dengan sebuah telepon genggam pinjaman, dia selalu memencet angka panggilan sampai akhirnya menemukan pamannya.

Badaik kemudian meminta majikannya bantuan buat pulang.

Mereka menolak dan menguncinya di sebuah ruangan.

Namun Badaik lolos dan menemukan kampungnya pada tahun lalu.

“Ibu memeluk dan menangis sementara ayah cuma berdiri di pojokan,” kata dia.

“Saya menampar ayah, Bagaimana mampu dia meninggalkan aku di sana dan tak pernah menjenguk?” kata Badaik.

Sekarang Badaik tengah berupaya menemukan adik perempuannya, yg juga dijual sang ayah sebagai pembantu rumah tangga.

Editor: Gilang Galiartha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com

Post Author: admin