Prancis, Trump, Abe Bahas Peningkatan Tekanan Untuk Korut

Paris – Presiden Prancis Emmanuel Macron membahas peningkatan tekanan dan sanksi untuk Korea Utara melalui telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, kata kantor kepresidenan Prancis, Sabtu.

Ketiga pemimpi menekankan keperluan buat sebuah reaksi yg “terpadu dan tegas” dari masyarakat internasional kepada Pyongyang, menurut kantor Macron.

Korea Selatan pada Sabtu siap buat kembali menghadapi uji mencoba peluru kendali nuklir ketika negata itu merayakan ulang tahunnya, cuma dua hari setelah uji mencoba nulir keeenam dan terbesarnya yg membuat menggoyang pasar uang global dan makin meningkatkan ketegangan di kawasan.

Pada minggu dahulu Korea Utara melakukan uji mencoba nuklir yg memicu kecaman dunia internasional.

Menurut kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, pengembangan bom hidrogen itu dikerjakan di tengah peningkatan ketegangan wilayah menyusul beberapa uji peluru kendali antar benua (ICBM) Pyongyang pada Juli, yg mampu terbang hingga sekitar 10.000 kilometer dan diperkirakan menjangkau dua bagian dari daratan penting Amerika Serikat.

Di bawah kepemimpinan generasi ketiga, Kim Jong-un, Korea Utara berusaha mengembangkan perangkat nuklir kecil dan ringan, yg sesuai dengan peluru kendali balistik jarak jauh tanpa mempengaruhi jangkauannya, sehingga bisa bertahan setelah kembali memasuki atmosfer Bumi.

Korea Utara, yg mengembangkan kegiatan nuklir dan peluru kendalinya meski bertentangan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB dan menyebabkannya dikenai dua sanksi, “baru-baru ini berhasil” membuat kemajuan dalam pengembangan bom hidrogen yg mulai dimuat dalam ICBM, menurut laporan KCNA.

“Bom-H, yg kekuatan peledaknya bisa disesuaikan dari puluhan kilo ton hingga ratusan kilo ton, yaitu senjata termonuklir bersifat multifungsi dengan kekuatan perusak yg hebat, meski diledakkan bahkan di tempat yg tinggi bagi serangan EMP (Electromagnetic Pulse) super kuat guna menyerang sesuai dengan tujuan strategis,” kata KCNA.

Kim Dong-yub, seorang ahli militer di Institut Studi Timur Jauh pada Universitas Kyungnam, Seoul, merasa skeptis.

“Jika merujuk pada daya ledak puluhan sampai ratusan kilo ton, itu sepertinya bukan bom H yg sama sekali baru. Kemungkinan itu hanyalah perangkat nuklir yg diperkuat,” kata Dong-yub, mengacu pada bom atom, yg memakai dua isotop hidrogen buat meningkatkan daya ledak.

Daya ledak bom hidrogen mampu mencapai ribuan kilo ton, lebih kuat daripada bom nuklir, yg terakhir di uji Korea Utara pada September dengan kekuatan cuma sekitar 10 sampai 15 kilo ton, mirip dengan yg dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, pada 1945.

Sementara itu Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon menyampaikan China memegang kunci bagi menyelesaikan ancaman nuklir Korea Utara dan harus berbuat lebih banyak dengan memakai seluruh pengaruhnya guna menghadapi tetangganya itu, demikian Reuters melaporkan.

(Uu.SYS/G003)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com

Post Author: admin