Alkes Harus Jamin Keselamatan Pasien

Jakarta – Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium (GAKESLAB) Indonesia tegaskan komitmen buat menyediakan alat kesehatan berkualitas yg utamakan Keselamatan Pasien.

Sejak 2014, pemerintah melalui Permenkes 4/2014 tentang Cara Distribusi Alat Kesehatan Yang Baik (CDAKB) sudah mensosialisasikan pentingnya penyaluran (alat kesehatan) alkes yg menjamin keselamatan pasien. Namun, hingga ketika ini baru sekitar 87 perusahaan yg tersertifikasi CDAKB.

“Di sini, penerapan CDAKB menjadi utama dan membutuhkan investasi yg tinggi. CDAKB mulai memastikan pengadaan alat kesehatan yg aman, berkualitas dan terpercaya yg sesuai dengan regulasi. Perusahaan yg menerapkan CDAKB menempatkan keselamatan pasien sebagai hal yg utama,” ujar Ketua Umum GAKESLAB, Drs. Sugihadi H.W. MM di sela acara Rakernas GAKESLAB Indonesia Tahun 2017, Jakarta, Rabu (13/12/2017).

Keselamatan pasien tak mampu dikompromikan cuma demi harga yg murah tanpa jaminan keamanan dalam jangka panjang. Alkes mengandung unsur teknologi yg cakupannya sangat luas, dari yg sederhana hingga canggih di mana dibutuhkan keahlian yg sangat khusus dalam penggunaannya.

“Perkembangan teknologi Alkes berubah sangat cepat seperti teknologi pada gawai. Selain itu, banyak produk Alkes yg membutuhkan layanan purna jual, pemeliharaan dan kalibrasi secara berkala, sehingga seluruh kegiatan distribusi yg dikerjakan oleh anggota GAKESLAB harus mencakup pendidikan, pelatihan, pemeliharaan, perbaikan dan kalibrasi,” lanjutnya.

Dalam kesempatan yg sama Ketua Umum Asosisasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI), Ir. Ade Tarya Hidayat mengatakan, kualitas dan keamanan alat kesehatan menjadi prioritas sepanjang siklus hidup alat kesehatan tersebut, sejak tahap penelitian dan pengembangan produk, proses produksi, pengendalian mutu, distribusi hingga pemasaran dan purna jualnya.

“Hal ini mengikuti Cara Produksi Alat Kesehatan yg Baik (CPAKB) yg menjadi kewajiban para produsen sejak dikeluarkannya Permenkes 20/2017. Hal ini tak terlepas dari pemenuhan sistem management mutu terhadap standar-standar yg diakui dunia, seperti ISO 13485, CE, USFDA 510-K. Inipun membutuhkan komitmen dan investasi yg tinggi.” ungkap Ade Tarya.

GAKESLAB dan ASPAKI menyatakan dukungannya pada program Pemerintah guna mewujudkan kemandirian pengadaan alkes yg berkualitas dan mengutamakan keselamatan pasien sesuai dengan CDAKB dan CPAKB.

Saat ini ketergantungan Indonesia pada Alkes impor masih tinggi. Berdasarkan data ijin edar yg diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI sampai dengan Oktober 2017, 8 persen (966 ijin) yaitu alat kesehatan dalam negeri, sedangkan 92 persen (10.893 ijin) yaitu alat kesehatan impor.

Berdasarkan data Kemenkes RI, jumlah produsen alkes dalam negeri meningkat dari 215 perusahaan di tahun 2016 menjadi 226 perusahaan di tahun 2017. Meskipun demikian pertumbuhan ini perlu dibantu agar lebih cepat.

Untuk mempercepat pengembangan industri alkes dalam negeri, GAKESLAB dan ASPAKI tengah merintis program Inkubator, yakni program pendampingan/pelatihan untuk anggota GAKESLAB yg berminat bagi menjadi produsen alkes. Saat ini, telah ada 12 perusahaan importir anggota GAKESLAB yg sedang bertransformasi menjadi produsen alkes dalam negeri.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin