Apoteker Berperan Kendalikan Resistensi Antibiotik

Jakarta – Antibiotik adalah obat yg digunakan bagi mencegah dan mengobati infeksi bakteri. Terkadang, masyarakat kerap membeli antibiotik buat menyembuhkan penyakit segera ke apotek tanpa resep dokter.

“Pada dasarnya, apoteker milik peran utama bagi kendalikan resistensi penggunaan antibiotik yg tak tepat. Terkadang, masyarakat kerap membeli antibiotik tanpa resep dokter dan segera ke apotek,” papar Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Dra. Maura Linda Sitanggang, PhD ketika ditemui di kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Secara umum, antibiotik digunakan pada infeksi selain bakteri, misalnya virus, jamur, atau penyakit yang lain yg non infeksi. Penggunaan antibiotik yg tak tepat selain menjadi pemborosan secara ekonomi juga berbahaya secara klinis merupakan terjadinya resisten bakteri terhadap antibiotik. Resisten terjadi ketika bakteri mengalami kekebalan dalam merespons antibiotik yg awalnya sensitif dalam pengobatan.

Bakteri resisten ini bisa menginfeksi manusia dan hewan. Hal yg sama menyebabkan infeksi lebih sulit diobati. Resistensi antibiotik menyebabkan biaya pengobatan lebih tinggi, pasien lebih lama tinggi di rumah sakit, serta meningkatkan angka kematian.

Menurut WHO pada tahun 2015, bakteri resisten merupakan keadaan dimana bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik yg awalnya efektif bagi pengobatan infeksi yg disebabkan oleh bakteri tersebut. Angka kematian akibat resistensi antimikroba sampai tahun 2014 sekitar 700.000 orang per tahun.

Dengan cepatnya perkembangan dan penyebaran infeksi akibat mikroorganisme resisten, pada tahun 2050 diperkirakan kematian akibat resistensi antimikroba lebih besar dibanding kematian akibat kanker.

Bila hal ini tak langsung diantisipasi, mulai mengakibatkan dampak negatif pada kesehatan, ekonomi, ketahanan pangan, dan pembangunan global, termasuk membebani keuangan negara.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin