Awas! Penyalahgunaan Obat PCC Dari Anak Hingga PSK

MASYARAKAT Indonesia terutama para orangtua sedang dihebohkan dengan berita beredarnya obat bertuliskan PCC yg menyebabkan 42 orang anak dan remaja dirawat di dua Rumah Sakit di Kendari Sulawesi Tenggara hingga menyebabkan 1 (satu) orang meninggal dunia. Gejala penyalahgunaan obat ini diantaranya tak sadarkan diri dan berhalusinasi. Informasi yg didapat dari pasien, mereka sudah meminum obat yg disebut PCC dan obat tersebut mereka dapatkan secara gratis oleh oknum yg mereka tak kenal.

PCC ini biasanya yaitu singkatan dari kandungan zat aktif di dalamnya yakni Paracetamol, Cafein dan Carisoprodol. Dari ketiga kandungan tersebut yg paling bertanggungjawab terhadap efek yg dialami para pasien tersebut ialah Karisoprodol. Berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap tablet PCC yg dikerjakan oleh Badan POM memperlihatkan positif mengandung Karisoprodol.

Karisoprodol digolongkan sebagai obat keras yg memiliki efek farmakologis sebagai relaksan otot namun cuma berlangsung singkat, dan di dalam tubuh mulai langsung dimetabolisme menjadi metabolit berupa senyawa Meprobamat yg menimbulkan efek menenangkan (sedatif). Namun Karisoprodol kerap disalahgunakan bagi tidak mengurangi rasa yakin diri, sebagai obat penambah stamina, bahkan juga digunakan oleh pekerja seks komersial sebagai “obat kuat”. Oleh karena itu, demi meminimalisir dampak penyalahgunaan yg lebih besar daripada efek terapinya, sejak tahun 2013 segala obat yg mengandung Karisoprodol sudah dibatalkan izin edarnya. Sehingga bila masih ditemukan produk serupa mengandung karisoprodol mampu dinyatakan sebagai produk ilegal seperti Somadril dan Carnophen yg juga mengandung karisoprodol.

Dilansir dari laman resmi Badan POM RI dinyatakan bahwa Badan POM sedang dan selalu mengefektifkan dan mengembangkan Operasi Terpadu Pemberantasan Obat-Obat Tertentu yg tidak jarang disalahgunakan dan memastikan tak ada bahan baku dan produk jadi Karisoprodol di sarana produksi dan sarana distribusi di semua Indonesia. Untuk menghindari penyalahgunaan obat maupun peredaran obat ilegal, diperlukan peran aktif semua komponen bangsa baik instansi pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat. Badan POM RI bersama Kepolisian dan BNN serta instansi terkait lainnya sudah sepakat buat berkomitmen membentuk suatu tim Aksi Nasional Pemberantasan Penyalahgunaan Obat yg mulai bekerja tak cuma pada aspek penindakan, namun juga pada aspek pencegahan penyalahgunaan obat. Pencanangan aksi tersebut direncanakan pada tanggal 4 Oktober 2017.

Semoga orangtua mampu menjalankan fungsinya sebagai benteng pertama untuk anak-anaknya agar tak terjerumus pada kesenangan sesaat akibat penyalahgunaan obat dalam dosis besar. Karena efek berbahaya yg ditimbulkan dikemudian hari bisa lebih fatal, berbahaya bahkan merenggut nyawa buah hati kita. Salam sehat! [DOS]
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin