Banyak Gunakan Smartphone, Remaja Risiko Depresi

New Delhi – Teknologi sudah membuat hidup terasa nyaman. Meski begitu, teknologi juga yaitu penyumbang penting berbagai persoalan kesehatan, terutama di kalangan anak muda.

Mengutip dari zeenews, Senin (04/12/2017), menurut sebuah penelitian, remaja yg menghabiskan lebih banyak waktu di smartphone dan layar elektronik lainnya berisiko mengalami depresi dan kecenderungan bunuh diri.

Sementara penggunaan smartphone yg berlebihan sebelumnya dikaitkan dengan kurang tidur pada remaja, beberapa penelitian juga menyoroti dampaknya terhadap kesehatan mental remaja.

Sebuah studi baru-baru ini juga menyampaikan bahwa meluangkan lebih banyak waktu di ponsel, tablet atau permainan komputer bisa meningkatkan risiko gangguan depresi atau menyebabkan kecenderungan bunuh diri pada remaja.

Studi baru, yg dikerjakan oleh para peneliti dari Florida State University di AS, menyampaikan bahwa waktu di depan layar dianggap sebagai faktor risiko depresi dan bunuh diri.

“Ada hubungan yg menyangkut antara waktu layar yg berlebihan dan risiko kematian karena bunuh diri, depresi, ide bunuh diri dan usaha bunuh diri,” kata Thomas Joiner, dari Florida State University.

“Semua persoalan kesehatan mental itu sangat serius, aku pikir itu sesuatu yg harus dipikirkan orang tua,” katanya.

Para periset menemukan bahwa 48 persen remaja yg menghabiskan lima atau lebih jam per hari di perangkat elektronik melaporkan perilaku bunuh diri. Itu dibanding 28 persen remaja yg menghabiskan waktu kurang dari satu jam dengan memakai perangkat elektronik.

Hasilnya, yg diterbitkan dalam jurnal Clinical Psychological Science, jelas memamerkan bahwa remaja yg menghabiskan lebih banyak waktu di perangkat lebih cenderung tak bahagia.

Mereka yg lebih fokus pada kegiatan non-layar seperti olahraga, berbicara dengan teman tatap muka, melakukan pekerjaan rumah lebih cenderung bahagia.

Depresi dan tingkat bunuh diri buat remaja berusia antara 13 dan 18 meningkat secara dramatis sejak 2010, terutama di kalangan anak perempuan, menurut Centers for Disease Control and Prevention AS.

Studi tersebut mengidentifikasi penggunaan perangkat elektronik secara berlebihan sebagai pelakunya.

Menurut statistik CDC, tingkat bunuh diri meningkat 31 persen di kalangan remaja dari 2010 hingga 2015, sementara sebuah survei nasional memamerkan bahwa jumlah remaja yg melaporkan gejala depresi berat meningkat 33 persen.

Peningkatan tersebut sebagian besar didorong oleh gadis remaja. Tingkat bunuh diri mereka melonjak 65 persen dan mereka yg menderita depresi berat meningkat 58 persen.

Tingkat perilaku terkait bunuh diri – merasa putus asa, berpikir bagi bunuh diri atau mencobanya, meningkat 14 persen.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin