BKKBN Prioritas Atasi Stunting

Jakarta – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Plt.Deputi ADPIN BKKBN Agus Sukiswo menjelaskan terdapat satu prioritas kerja utama merupakan mengatasi persoalan stunting (kerdil) di daerah.

Bakti Sosial tersebut mulai dilaksanakan di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) yg yaitu Kabupaten Prioritas Penggarapan Stunting berdasarkan data 100 kabupaten dan kota prioritas buat intervensi anak kerdil (stunting) pada hari Selasa tanggal 01 Mei 2018 dengan tema Dengan Semangat Gotong Royong dan Sinergi, Kita Jadikan Kampung KB sebagai Poros Keluarga Berkualitas.

TNI yaitu mitra kerja yg sangat potensial dalam mempercepat pencapaian keberhasilan program. Agus menjelaskan maksud dan tujuan Bakti Sosial TNI Manunggal KB-Kesehatan, yaitu, sebagai tindak lanjut Nota Kesepahaman antara BKKBN dengan TNI, kedua, percepatan capaian Program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) melalui Bakti Sosial TNI Manunggal KB-Kesehatan (TMKK) buat mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan Keluarga Sejahtera, ketiga, Indonesia mengatasi permasalahan gizi ganda, merupakan kekurangan gizi seperti wasting (kurus) dan stunting (pendek) pada balita, anemia pada remaja dan ibu hamil serta kelebihan gizi termasuk obesitas baik pada balita maupun orang dewasa, keempat, perkembangan terakhir pelaksanaan Program KKBPK, kelima, sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden bagi pembentukan Kampung KB.

TNI yaitu mitra kerja yg sangat potensial dalam mempercepat pencapaian keberhasilan program, sehingga bisa menekan angka kelahiran. Berdasarkan angka kelahiran total (TFR) hasil sementara SDKI tahun 2017 merupakan 2,4, dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) sebesar 1,49 persen per tahun pada periode tahun 2000-2010 menjadi 1,38 persen per tahun pada kurun tahun 2010-2015, dulu menjadi 1,19 persen per tahun pada periode tahun 2015-2010, CPR modern sebesar 57,9 persen dari target seharusnya sebesar 62,5 persen, unmet need (kebutuhan pelayanan KB yg tak terpenuhi) sebesar 11,4 persen.

“Saat ini Indonesia sedang mengatasi permasalahan gizi ganda, merupakan kekurangan gizi seperti wasting (kurus) dan stunting (pendek) pada balita, anemia pada remaja dan ibu hamil serta kelebihan gizi termasuk obesitas baik pada balita maupun orang dewasa,” kata Agus Sukiswo, ketika ditemui di kantor BKKBN, Jakarta, Selasa, (25/04/2018).

Sekitar 37 persen (hampir 9 juta) anak balita mengalami stunting (Riskesdes 2013) dan Indonesia adalah negara dengan prevalensi stunting ke 5 terbesar.

Anak kerdil yg terjadi di Indonesia sebenarnya tak cuma dialami oleh keluarga yg miskin dan kurang mampu, mulai tapi stunting juga dialami oleh keluarga yg tak miskin/yang berada di atas 40 persen tingkat kesejahteraan sosial dan ekonomi.
“Komitmen TNI yg sangat kuat dalam mendukung program KKBPK sampai dengan ketika ini dirasakan pada beberapa kegiatan yg dilaksanakan oleh BKKBN,” ucap Agus. (tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin