Dumolid, Obat Resep Atau Obat Terlarang?

NAMA dumolid mendadak populer di kalangan masyarakat sejak ditangkapnya seorang publik figur dengan tuduhan penyalahgunaan obat. Masyarakat awam mungkin berpikir bahwa dumolid termasuk ke dalam obat-obatan terlarang setara ganja, ekstasi, sabu dll. Benarkah demikian? Menurut penjelasan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM):

– Dumolid mengandung zat aktif Nitrazepam yaitu obat psikotropika yg biasa digunakan buat pengobatan jangka pendek insomnia/ gangguan tidur dengan berbagai sebab.
– Di Indonesia, Dumolid pertama kali mendapatkan izin edar Badan POM sebagai obat insomnia pada tahun 1974.
– Penyerahan Dumolid sebagai golongan psikotropika dalam rangka peredaran cuma mampu dikerjakan di apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dan dokter. Masyarakat dapat memperoleh obat psikotropika, termasuk Dumolid, cuma di apotek dengan memakai resep dokter.
– Penjualan obat psikotropika melalui media online melanggar ketentuan UU No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika. Dan bagi mengantisipasinya, Badan POM sudah membangun kerja sama dengan Asosiasi e-commerce. Jika menemukan pelanggaran, Badan POM membuat surat rekomendasi penutupan subsite kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Untuk menghindari penyalahgunaan obat maupun peredaran obat ilegal, diperlukan peran aktif semua komponen bangsa, baik instansi pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat. Dan salah sesuatu upaya yg dikerjakan adalah melalui pencanangan Aksi Nasional Pemberantasan Penyalahgunaan Obat yg melibatkan lintas sektor terkait.

Jadi, dumolid bukanlah obat ilegal yg dilarang oleh hukum. Namun cara peredarannya hingga ke tangan konsumen lah yg diatur sedemikian rupa agar tepat guna. Jika dilihat dari sisi harga pun, dumolid juga bukan obat yg terlalu mahal, obat ini sesuatu paknya berisi 100 tablet cuma sekitar 280.000 atau 2.800 rupiah saja per tabletnya. Tentu berbeda jauh dengan harga obat-obatan terlarang seperti ganja, sabu dan lainnya.

Selain itu, seandainya kami mau melakukan introspeksi secara keseluruhan. Kesalahan tidak mampu dilimpahkan 100% pada konsumen yg mampu jadi tidak tahu mengenai peraturan peredaran obat golongan psikotropika. Karena memang obat ini termasuk gampang bagi didapatkan baik di apotek-apotek tertentu yg “nakal” atau dijual bebas secara online. Semoga dengan terkuaknya perkara ini bisa menjadi ajang perbaikan buat semua elemen akan dari hulu hingga ke hilir. Bukankah tidak mulai ada “konsumen nakal” seandainya tidak ada “penjual yg nakal”? Atau seandainya keduanya tetap “nakal”, semoga BPOM dan instansi yang lain yg terkait bisa melakukan fungsinya dengan lebih baik lagi. Salam sehat! [DOS]
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin