GenRe Beraksi Tekan Angka Pernikahan Dini Di NTB

Mataram – Zul dan Mega, sepasang Duta GenRe Tahun 2017 menjelaskan berbagai upaya menumbuhkan kesadaran di dalam diri remaja dan anak muda di NTB bagi tak menikah di usia muda.

Tidak menikah di usia muda mencakup di bawah usia 21 bagi perempuan dan dibawah usia 25 buat laki-laki. Selain itu, Forum GenRe NTB juga melakukan pemberdayaan potensi remaja dan pemuda di NTB lewat berbagai program dan kegiatan.

Perlu diketahui, berdasar hasil pendataan keluarga tahun 2015, angka pernikahan dini di NTB mencapai angka 5,81 persen. Angka tersebut berkorelasi kuat dengan tingginya jumlah janda dan duda yg mencapai angka 21,55 persen, dimana sebagiannya muncul akibat tingginya angka perceraian.

Misalnya Kolaborasi Aksi, merupakan kegiatan yg diselenggarakan selama bulan ramadan lalu, dimana Forum GenRe bekerja dengan berbagai komunitas bagi menggelar acara pendidikan agama non-formal bersama dan membuka konseling untuk remaja dan pemuda.

“Kita ini dari jalur pendidikan, dari kegiatan yg telah kalian lakukan, seperti kemarin di bulan puasa, kami membuat kolaborasi aksi. Jadi kalian mengajak segala komunitas yg ada di NTB, khususnya di Kota Mataram itu ada teman-teman dari Genbi (Generasi Baru Indonesia), itu para penerima beasiswa Bank Indonesia, selalu ada Genpi (Generasi Pesona Indonesia), itu kami untuk acara bareng di Islamic Center,” ungkap Mega seperti yg dikutip dari siaran pers, baru – baru ini.

Kepala BKKBN NTB, Lalu Makripudin, di sela acara Aksi GenRe Akademi Kreatif Santri Berbasis Pondok Pesantren 2017 yg diselenggarakan di Pondok Pesantren Qamarul Huda menjelaskan, tingginya pernikahan dini di NTB tidak lepas dari kultur yg terbentuk dalam masyarakat soal pernikahan. Menurutnya, masyarakat NTB sudah sejak lama memiliki pola pikir bahwa pernikahan adalah sebuah pencapaian dan solusi dari berbagai masalah.

Hal tersebutlah yg dikatakan Lalu sebagai persoalan besar dalam upaya menekan angka pernikahan diri di NTB. Meski begitu, Lalu menegaskan, pihaknya mulai selalu bekerja keras bagi menekan tingginya angka pernikahan dini yg kerap kali berujung pada perceraian dan permasalahan pengasuhan anak.

“Jadi memang ini (pernikahan dini) telah terbentuk secara kultur masyarakat, secara mindset, bagaimana pernikahan itu adalah suatu capaian utama untuk masyarakat. Itu mengapa banyak sekali anak-anak yg dinikahkan oleh orang tua mereka di usia muda. Dan ini yg mulai selalu kalian upayakan dan jadi fokus kita,” kata Lalu.

Sementara itu, dalam sambutannya di acara Aksi GenRe di Pondok Pesantren Qamarul Huda, Kepala BKKBN, Surya Chandra Surapaty mengimbau kepada semua masyarakat buat berperan aktif menyukseskan program pemerintah terkait pengendalian penduduk dan pengembangan manusia berbasis keluarga.

Menurut Surya Chandra, hal tersebut yaitu hal yg sangat penting, terlebih Indonesia mulai memasuki era bonus demografi pada tahun 2020 hingga tahun 2030 mendatang. Pada era itu, kualitas sumber daya manusia diharapkan dalam tingkatan yg cukup baik bagi mendongkrak posisi bangsa dalam kancah internasional.

“Jadi sangat utama bagi generasi-generasi penerus ini dipersiapkan sebagai manusia-manusia yg unggul. Bonus demografi secara nasional ini kan mulai masuk pada tahun 2020 hingga 2030. Itu secara nasional. Pada masa itu, kami segala harus bekerja keras dengan kualitas terbaik yg dimiliki,” papar Surya.
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin