Iklan Gaya Hidup Sehat Kalah Dari Iklan Komersil

GAYA hidup seseorang ataupun masyarakat secara umum sangat berpengaruh terhadap proyeksi kesehatannya di masa depan. Pola makanan yg mencakup pemilihan macam makanan hingga jumlah makanan yg dikombinasikan dengan kebiasaan-kebiasaan tertentu, seperti merokok, kurang waktu istirahat dan stress menjadi bom waktu buat permasalahan kesehatan yg kompleks di masa depan.

Di tengah kesulitan negara memenuhi kebutuhan layanan kesehatan untuk masyarakatnya, terdapat “kekhilafan” pemangku kebijakan di mana jargon-jargon iklan komersil yg membudayakan gaya hidup tak sehat jauh lebih kuat mengalahkan iklan-iklan layanan masyarakat yg bertanggungjawab bagi promosi dan pencegahan penyakit.

Sebut saja iklan rokok yg menyumbang kenaikan persentase perokok pada remaja (Riskesdas 2010) atau iklan susu formula, junk food, dan iklan minuman keras, kesemua ini memberikan kontribusi kuat pada sektor industri namun secara keseluruhan negara mampu dianggap merugi karena beban anggaran kesehatan yg harus ditanggung ke depan semakin besar.

Iklan-iklan komersil bagi kepentingan sekelompok industri diprioritaskan dan diberikan porsi besar di media cetak, online maupun penyiaran di televisi, namun iklan layanan masyarakat yg diharapkan dapat mengcounter efek dari promosi negatif industri tersebut, justru terkesan jauh tertinggal dan terengah-engah menghadapi tuntutan zaman.

Di masa lalu, saat media televisi cuma ada TVRI, kami masih kadang menyaksikan iklan 4 Sehat 5 Sempurna dan iklan Keluarga Berencana yg secara kontinu ditayangkan setiap saat. Hal ini terbukti cukup efektif meningkatkan kesadaran masyarakat bagi memiliki pola hidup sehat yg dengan sendirinya meringankan pembiayaan negara di bidang kesehatan.

Saat ini, Komisi Penyiaran Indonesia terkesan cuma sibuk mencegah permasalahan tayangan tertentu yg tak menyangkut esensi permasalahan kesehatan bangsa secara keseluruhan. Promosi dan pencegahan kesehatan melalui media televise dan media lainnya pun tak digarap secara serius, namun cuma terkesan formalitas saja.

Iklan turut serta dan memiliki peranan besar dalam perubahan pola pikir masyarakat. Jika pola pikir masyarakat dapat diarahkan bagi gaya hidup yg sehat dan gizi seimbang, maka generasi selanjutnya bagi masa depan yg berkualitas dapat lebih gampang buat diraih dan beban biaya APBN buat kesehatan mampu lebih efisien.

* dr. Reza Aditya Digambiro, M.Kes, M.Ked (PA), Sp.PA, Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin