Indonesia Hadapi Tantangan Beban Ganda Penyakit

Jakarta – Meski Indonesia menghadapi kemajuan besar dalam kesehatan sejak 1990, tak mampu dipungkiri ternyata memiliki tantangan meningkatnya berbagai penyakit tak menular.

Indonesia mencatat kemajuan besar dalam bidang kesehatan sejak tahun 1990, dengan meningkatnya usia harapan hidup jadi delapan tahun lebih lama serta menurunnya beban penyakit menular seperti diare dan tuberkulosa (TBC). Namun pada ketika ini juga Indonesia menghadapi tantangan meningkatnya berbagai penyakit tak menular, antara yang lain penyakit jantung, diabetes, stroke, kanker, dan lain-lain.

“Indonesia ketika ini menghadapi tantangan Beban Ganda Penyakit. Kita harus tetap giat melakukan berbagai upaya bagi menurunkan infeksi penyakit menular seperti TB, diare dan berbagai gangguan kesehatan ibu dan bayi. Pada ketika bersamaan, kami juga perlu meningkatkan berbagai upaya pencegahan dan mengatasi penyakit-penyakit tak menular, yg pengobatannya membutuhkan biaya yg sangat besar,” papar Dr. Nafsiah Mboi, Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2012-2014), Jakarta, baru – baru ini.

Masalahnya makin kompleks dengan meningkatnya usia harapan hidup di Indonesia, dengan tantangan kombinasi berbagai penyakit pada penduduk lanjut usia. Studi ini, diterbitkan dalam The Lancet, meliputi kurun waktu 1990 hingga 2016; dan yaitu bagian dari Studi Global “Burden of Disease” (GBD) atau Beban Penyakit Global, sebuah upaya ilmiah yg komprehensif bagi mengkuantifikasi keadaan kesehatan diseluruh dunia.

Dalam Studi ini, Dr. Nafsiah dan tim para peneliti dari IHME dan Indonesia, termasuk a.l. Badan Litbang Kementerian Kesehatan, BAPPENAS, Biro Pusat Statistik, Eijkman Oxford Institute, Universitas Indonesia dan BPJS Kesehatan, mengkaji penyebab kematian dan disabilitas dari 333 penyakit di Indonesia dan tujuh negara pembanding.
Studi ini yaitu upaya sistematis terbesar yg pernah dikerjakan buat memahami trend kesehatan di Indonesia serta berbagai penyebabnya.

Usia harapan hidup orang Indonesia tahun 2016 mencapai 71,7 tahun, lebih lama dibandingkan dengan usia harapan hidup yg cuma 63,6 tahun pada tahun 1990. Perempuan Indonesia hidup sedikit lebih lama dibandingkan para pria. Peningkatan usia harapan hidup ini sebagian besar disebabkan karena keberhasilan Indonesia menanggulangi penyakit menular, penyakit terkait kehamilan, neonatal, dan penyakit-penyakit terkait gizi.

Pada tahun 1990, penyakit diare, infeksi saluran nafas bawah (LRI), dan tuberkulosa (TBC) masih yaitu tiga penyakit penyebab penting kematian dan disabilitas. Lebih dari 25 tahun kemudian, TBC menduduki peringkat ke-4, diare ada di peringkat 10, dan infeksi saluran nafas bawah tak lagi berada dalam sepuluh besar penyebab kematian dan disabilitas.

“Namun demikian, penyakit-penyakit tersebut masih yaitu persoalan kesehatan yg besar,” tambah Dr. Nafsiah.

Pada ketika yg bersamaan, beban karena penyakit tak menular meningkat secara drastis. Penyakit jantung dan diabetes sudah meningkat dengan cepat selama 25 tahun lebih. Peningkatan ini didorong oleh pola makan yg tak sehat, tekanan darah tinggi, kadar gula darah yg tinggi, dan kebiasaan merokok, yg pada ketika ini menjadi factor2 resiko tertinggi di Indonesia. Diabetes memperlihatkan peningkatan yg mencemaskan.

Kematian dan disabilitas yg disebabkan oleh diabetes meningkat sebesar 38,5 persen sejak 2006, dan kemungkinan besar mulai makin tidak mengurangi beban masyarakat dan sistem Kesehatan di masa mendatang.

Cedera karena kecelakaan dulu lintas dan berbagai penyakit tak mematikan seperti sakit pinggang bawah dan nyeri leher, serta gangguan penglihatan dan pendengaran juga semakin jadi beban kesehatan masyarakat di Indonesia.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin