Ini Akibat Jika IQ Anak Terus Menurun

London – Anak – anak yg memperlihatkan penurunan selalu – menerus dalam tingkat intelligent quotient (IQ), dapat berisiko pengembangan gangguan schizophrenia.

Mengutip dari zeenews, Senin (05/02/2018), hal tersebut diungkapkan oleh sebuah penelitian. Para peneliti menemukan bahwa orang-orang yg mengembangkan gangguan psikotik sebagai orang dewasa memiliki nilai IQ normal di masa kanak-kanak, tetapi tingkat IQ mereka telah akan menurun.

Itu selalu turun sepanjang masa kanak-kanak, masa remaja dan dewasa awal sampai mereka rata-rata 15 poin lebih rendah daripada rekan-rekan mereka sehat.

Selain tingkat IQ rendah, anak-anak ini juga tertinggal di belakang rekan-rekan mereka dalam kemampuan kognitif seperti bekerja memori, kecepatan pemrosesan dan perhatian bersama dengan kelainan pada persepsi dan berpikir.

“Untuk individu dengan gangguan psikotik, penurunan kognitif tak cuma dimulai di masa dewasa, saat orang akan mengalami gejala seperti halusinasi dan khayalan, tetapi agak banyak tahun sebelumnya, saat kesulitan dengan intelektual tugas pertama muncul dan memburuk dari waktu ke waktu,”kata Josephine Mollon, peneliti di King’s College di London.

“Hasil kita memperlihatkan bahwa antara orang dewasa dengan gangguan psikotik, tanda-tanda pertama penurunan kognitif jelas pada usia dini,” ditambahkan Mollon.

Namun, tak segala anak yg berjuang di sekolah berada pada risiko mengembangkan gangguan kejiwaan yg serius, para peneliti menyampaikan dalam sebuah makalah yg diterbitkan dalam jurnal JAMA psikiatri.

Intervensi awal bagi meningkatkan kemampuan kognitif yg berpotensi mampu menolong mencegah gejala psikotik dari berkembang di kemudian hari.

“Ada intervensi awal yg ditawarkan kepada remaja dan dewasa muda dengan psikosis,” kata Abraham Reichenberg, profesor di Universitas.

“Hasil kalian memamerkan pentingnya potensi intervensi yg terjadi jauh lebih awal dalam kehidupan. Campur tangan dalam masa kanak-kanak atau awal masa remaja bisa mencegah kemampuan kognitif yg memburuk dan hal ini mungkin bahkan keterlambatan atau mencegah timbulnya penyakit,” tambah Reichenberg.

Untuk penelitian ini, peneliti termasuk individu dan 4.322 dan mengikuti mereka dari 18 bulan sampai 20 tahun usia.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin