Ini Cara Identifikasi Anak Trauma Berkepanjangan

Jakarta – Anak menjadi salah satu kelompok yg paling rawan terkena trauma pasca bencana. Lantas, bagaimana mengidentifikasi trauma berkepanjangan?

Menurut Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi. (Psikolog Anak), anak adalah kelompok yg paling berat dan rentan. Namun, banyak yg bilang, kalau anak – anak cepat lupa pada seuatu kejadian. Padahal hal tersebut belum tentu terjadi pada segala anak.

“Karena gini, keadaan anak – anak itu masih sangat bergantung dengan orang orang dewasa disekitarnya. Kalau orang dewasa mampu merasaa saya harus kuat. Kalau anak – anak tak bisa,” papar Vera ketika ditemui di acara talkshow Menggunakan Bakat Kita bagi Meringankan Derita Korban Gempa yg diselenggarakan oleh Penerbit Erlangga, Jakarta, Senin, (22/10/2018).

Masih menurutnya, anak – anak paling berat mengalami dampaknya dalam hal ini. Pada dasarnya, anak – anak bagi membantu diri sendiri saja masih sangat sulit.

“Padahal banyak orang – orang di sekitar anak suka bilang anak – anak telah dapat main dan cerita. Padahal mereka ya bermain bukan berarti lupa. Mereka butuh media buat melungangkan isi hatinya,” tambah Vera.

Mengidenfikasi trauma pada anak seandainya mengalami sesuatu hal yg berkepanjangan mampu dilihat dari durasinya.

“kalau shock berkepanjangan bagaimana cara tahunya? Kalau seorang anak mengalami trauma yg lama ini harus menunggu durasinya. Kalau satu bulan atau 4-6 pekan telah lewat. Kalau gejala – gejala masih ada, ini masih perlu bantuan. Ada beragam gejala,” ujar Vera.

Misalnya, seandainya anak di bawah 5 tahun mengalami gangguan pola tidur. Ini sangat jelas terlihat.

“Maunya nempel selalu sama orangtuanya, mengalami mimpi buruk, suka terbangun, dan nangis selalu – terusan. Kalau diatas 5 tahun ada cara mengenalinya baik anak laki – laki dan perempuan berbeda. Jika anak laki – laki, suka dibilang enggak boleh nangis. Jadi mereka mengeluarkan dengan cara yg lain, selain menangis. Mereka mampu mudah marah, berantem, melakukan aktivitas fisik. Dia mampu menjurus ke perilaku bahaya. Kalau perempuan, cenderung murung, menarik diri, menangis. Ketika seni masuk, ini mampu menjadi penyaluran. Ini dapat keluar sendiri apa yg dirasakan. Tujuannya adalah buat rilis atau mengeluarkan isi hatinya,” tambahnya. (tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin