Jumlah Darah Cukup, Turunkan Angka Kematian Ibu

Jakarta – Ketersediaan dan keamanan darah sangat utama untuk kehidupan manusia. Persediaan darah yg aman dan berkualitas yaitu bagian yg tak terpisahkan buat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI).

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Untung Suseno Sutarjo mewakili Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyampaikan berdasarkan data rutin kesehatan keluarga tahun 2017 di Indonesia, 27,1 persen penyebab kematian ibu adalah perdarahan.

“Di rumah sakit, kegiatan transfusi darah paling banyak dikerjakan di antaranya di bagian penyakit dalam dengan kasus-kasus seperti keganasan, perdarahan saluran cerna bagian atas, bawah, dan gagal ginjal kronik,” kata Untung di Kemenkes RI, Jakarta, Selasa, (03/07/2018).

Selain itu, bagi bagian kebidanan, masalah perdarahan antepartum (plasenta previa, kehamilan ektopik terganggu) dan perdarahan postpartum (retensio plasenta, post operasi Sectio Caecaria) yaitu masalah kebidanan yg tidak jarang membutuhkan transfusi darah. Untuk bagian anak, penyakit yg paling banyak membutuhkan transfusi darah adalah Thalassemia.

Maka buat mencegah itu semua, masyarakat memerlukan akses terhadap pelayanan darah dalam jumlah yg cukup. Salah satunya bisa dicapai dengan banyaknya pendonor darah sukarela yg secara rutin mendonorkan darahnya ke Unit Transfusi Darah (UTD), sehingga UTD bisa memenuhi permintaan darah dari fasilitas pelayanan kesehatan.

Berdasarkan standar World Health Organization (WHO), jumlah kebutuhan minimal darah di Indonesia adalah 2 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 5,2 juta kantong darah per tahun, sedangkan produksi darah dan komponennya, berdasarkan laporan tahunan UTD pada 2016 sebanyak 4,2 juta kantong darah dari 3,3 juta donasi. Dari jumlah darah yg tersedia, 92% di antaranya berasal dari donasi sukarela. Sementara buat laporan produksi darah dan komponennya tahun 2017 masih dalam proses pendataan UTD.

Sejalan dengan hal tersebut, bagi ketika ini sudah ada program kerja sama antara Puskesmas, UTD, dan rumah sakit dalam pelayanan darah bagi mengurangi angka kematian ibu. Tujuannya buat menjamin persediaan darah yg cukup buat ibu hamil, melahirkan dan nifas, dan juga meningkatkan peran serta masyarakat bagi menjadi pendonor darah sukarela. Saat ini sebanyak 3.437 Puskesmas melalui 175 Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sudah menandatangani nota kesepahaman dengan UTD dan rumah sakit.

Selain kerja sama itu, momentum Hari Donor Darah Sedunia tahun ini juga menjadi kesempatan buat mengajak masyarakat mendonorkan darahnya secara suka rela.

“Ketersediaan darah di sarana kesehatan ditentukan oleh partisipasi pendonor darah,” kata Untung.

Kampanye Hari Donor Darah kali ini lebih menekankan pada solidaritas sekaligus memotivasi pendonor darah rutin dan orang-orang yg dalam keadaan sehat namun belum pernah menyumbangkan darahnya agar melakukan donor darahnya. (tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin