Kanker Serviks Umumnya Tidak Bergejala

Jakarta – Kanker serviks muncul tanpa gejala. Namun, kanker ini mampu dicegah dengan melakukan vaksinasi HPV (Human Papilloma Virus).

Menurut dr. Andi Darma Putra, Sp.OG(K) dari RS Cipto Mangunkusumo, pasein kanker serviks umumnya tak merasakan gejala.

“Umumnya pasien tiba pada stadium lanjut, karena di stadium awal tak ada gejala,” ujar dr. Andi Darma Putra, Sp.OG(K) dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dalam sebuah diskusi ilmiah di Jakarta, seperti yg dikutip dari siaran pers Forum Ngobras, Sabtu, (07/04/2018).

HPV (Human Papilloma Virus), virus penyebab kanker serviks, menimbulkan beban kesehatan di semua dunia, tidak terkecuali Indonesia. Kanker serviks menduduki peringkat dua kanker terbanyak pada perempuan di Indonesia.

Berdasarkan INASGO National Cervical Cancer Registry (2012-2016), insiden tertinggi kanker serviks terjadi pada kelompok usia dewasa muda (usia 35-55 tahun), dengan total 5.216 perempuan dari 2012-2016. Diikuti kelompok usia dewasa tua (55-64 tahun), dengan total 1.561 perempuan.

Ada >200 tipe HPV, tetapi tak semuanya dapat menyebabkan kanker (tipe onkogenik/risiko tinggi). Sebagian lagi tipe non onkogenik (risiko rendah), tetapi mampu menyebabkan kutil kelamin.

Bukan berarti aman bila mengalami infeksi HPV yg tipe non onkogenik.

“Sering juga terjadi infeksi campuran. Saya pernah menemukan sampai tujuh tipe HPV, gabungan onkogenik dan non onkogenik,” tutur dr. Andi.

Penyakit yg dapat ditimbulkan oleh infeksi HPV bukan cuma kanker serviks. Melainkan juga kanker vagina 60-90 persen, vulva 40 persen, orofaring 12-70 persen, bahkan juga kanker anal >80 persen dan kanker penis 45 persen pada laki-laki. Selain itu, juga kutil kelamin 100 persen.

Dipercaya bahwa kanker serviks dimulai dari permukaan serviks, dan seiring waktu berjalan makin ke lapisan dalam.

“Kalau infeksi menembus sel basal, terjadilah karsinoma invasif,” terang dr. Andi.

Lesi Pra Kanker Serviks stadium awal (CIN 1) dapat kembali normal dengan sendirinya; kemungkinannya 70 persen. Namun 30 persen sisanya mampu berlanjut menjadi lesi kanker stadium tinggi (CIN3). Bila telah CIN3, lebih kecil kemungkinannya buat kembali normal dan risikonya besar buat berkembang menjadi kanker serviks.

Untuk terjadinya perubahan sel-sel serviks normal menjadi kanker, butuh waktu paling cepat enam bulan hingga dua tahun. Bahkan mampu sampai 15-20 tahun.

“Karena itu, jangan heran bila perempuan yg telah menjanda 10 tahun mampu kena,” ujarnya.

Ia menyayangkan, tidak jarang dokter kecolongan bila kanker serviks muncul di usia menopause.

“Kadang dianggap bahwa itu penghabisan haid. Namun sampai dua tahun selalu berlanjut. Ternyata begitu ditemukan, kanker telah stadium lanjut,” imbuhnya.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin