Masyarakat Indonesia Kurang Peduli Kesehatan

Jakarta – Masyarakat Indonesia ketika ini kurang peduli kesehatan. Padahal, ketika ini gaya hidup menjadi salah satu pemicu penting penyakit kritis.

Masyarakat dari berbagai usia, baik yg produktif maupun usia senja tak luput dari risiko penyakit kritis. Menurut dr. Johan Winata, Sp,JP (K) FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah konsultan kardiologi intervensi RSPI, masyarakat Indonesia sangat kurang peduli dengan gaya hidup sehat. Memilih makanan yg sehat dan mengelola stress yg baik adalah salah satu kunci menjalankan hidup sehat.

“Di Indonesia, penyakit kritis yg paling pertama adalah persoalan cardiovaskular merupakan stroke atau gangguan pembuluh darah dan jantung kemudian baru kanker. Sebenarnya angka ini dibanding 20 tahun dulu sangat terbaik. Kalau dahulu kanker yg pertama. Baru penyakit metabolik termasuk jantung. Untuk data, memang setengahnya atau 50 persen angka kematian disebabkan karena penyakit jantung dan pembuluh darah. Kemudian 40 persen jantung coroner dan 38 persen stroke,” papar Johan ketika ditemui di acara BCA dan AIA Luncurkan Proteksi Penyakit Kritis Maksima (PRIMA), Jakarta, baru – baru ini.

Meski angka tersebut sangat tinggi bagi penderita penyakit kritis, ternyata masih banyak masyarakat yg tak memiliki jaminan kesehatan buat mengantisipasi biaya kesehatan di dalam keluarga. Menurut data dari AIA Healthy Living Index Survey 2018 memperlihatkan bahwa sekitar 87 persen masyarakat Indonesia sangat mencemaskan biaya buat pengobatan penyakit kritis.

Kemudian,, penyakit yg dianggap mulai menimbulkan dampak finansial yg serius adalah kanker 53 persen, penyakit jantung 47 persen dan diabetes 31 persen. Untuk pengobatan penyakit seperti kanker, 31 persen menyatakan mereka membayar memakai uang tabungan dan 28 persen melalui asuransi.

“Kalau dihitung, buat biaya mengatasi penyakit jantung, sekitar Rp. 100 juta lebih. Tergantung dari persoalan atau perkara kesehatan jantungnya,” tambah Johan.

Karena itu, direktur BCA Suwignyo Budiman mengatakan, memiliki jiwa dan raga yg sehat yaitu dambaan hidup segala orang. Meski demikian, gangguan kesehatan atau penyakit yg menyerang tubuh memang tak mampu diprediksi.

“Oleh sebab itu, BCA bersama AIA mengambil langkah dengan menawarkan solusi proteksi jiwa dan penyakit kritis yg ketika ini semakin mahal biayanya,” ujar Suwignyo.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin