Mengenal Lebih Jauh Facet Joint Syndrome

Jakarta – Kondisi yang lain dari proses degenerative tulang belakang yg umum dijumpai di praktek klinik adalah facet joint syndrome.

Ini yaitu keadaan kesehatan layaknya arthritis pada tulang rawan sendi. Adanya peradangan sendi selanjutnya memicu sinyal rasa sakit pada cabang saraf sensory kapsul sendi facet.

Nyeri yg berasal dari satu atau lebih sendi facet inilah yg kemudian secara medis disebut facet joint syndrome dikenal juga sebagai facet arthropathy.

Seperti diketahui tulang belakang manusia tersusun dari beberapa ruas tulang yg disebut vertebra dan terhubung satu sama lain.

Masing-masing vertebra terhubung dengan 3 sendi merupakan satu sendi besar tulang belakang dan dua sendi facet di bagian belakang.

Desain yg mirip tripod ini menjaga vertebra tetap terhubung. Facet sendiri yaitu sendi synovial yg dilapisi tulang rawan dilumasi cairan dan dihalangi kapsul sendi.

Menurut Dr. dr. Wawan Mulyawan SpBS(K), SpKP, Spesialis Bedah Saraf, Brain & Spine Bunda Neuro Center, Jakarta, proses degenerative tulang belakang menyebabkan penyebaran berat badan tak merata ke sendi facet.

Beban ini mengakibatkan keausan pada sendi, rusaknya kapsul sendi hingga munculnya taji tuiang. Mirip seperti arthritis pada sensi lutut, perubahan ini menyulitkan seseorang bergerak secara bebas, terjadi peradangan dan iritasi. Kemudian pada gilirannya mengakibatkan otot di sekitar sendi facet menjadi kaku hingga sulit digerakkan.

“Yang khas dari facet joint syndrome nyerinya menyebar hingga ke bokong, seandainya terjadi di pinggang. Atau menyebar ke bahu hingga kepala bagian belakang seandainya terjadi di leher. Rasa tak nyaman atau pegal juga terasa tepat diatas sendi facet yg bermasalah,” tambah Dr. Wawan.

Meski demikian nyeri yg ditimbulkan pada sendi facet mirip dengan persoalan tulang belakang Iainnya.

Untuk mendapatkan diagnosis akurat, dokter membutuhkan keterangan riwayat kesehatan pasien, dan beberapa pemeriksaan yang lain baik fisik maupun radiologi.

“Dapat juga dikerjakan suntikan diagnostik memakai kortikosteroid dan obat anastesi, yg diberikan melalui panduan X-ray fluoroskopi pada sendi facet dan dievaluasi setelah 20-30 menit. Jika nyerinya berkurang hingga 70 persen, besar kemungkinan yaitu facetjoint syndrome,” papar dr. Wawan.

Saat ini teknologi minimally invasive seperti radiofrekuensi ablasi juga mampu menjadi solusi mengatasi nyeri akibat facet joint syndrome, dengan efektivitas terapi lebih baik.

Sindroma sendi facet, pada beberapa masalah mampu diatasi dengan memberbaiki gaya hidup seperti merubah posisi duduk yg baik, merubah posisi tidur, hingga menggurangi berat badan. Latihan penguatan otot punggung dan perut juga bisa menolong mengatasi facetjoint syndrome.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin