Menkes: Angka Stunting Menurun

Jakarta – Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan sudah menyelesaikan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Salah satu hasil yg memuaskan adalah angka kesehatan anak, buat stunting menurun.

Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Nila F Moeloek menjelaskan ada angka yg sangat menarik dari hasil Riskesdas 2018 adalah angka anak yg mengalami stunting menurun.

“Ada yg menarik, bahwa ternyata yg utama kalian mengubah perilaku dari mayasrakat, dari beberapa data ada yg menurun, merupakan data stunting menurun. Ini terkait dengan perilaku mengapa mereka (masyarakaat) merasa utama buat peningkatan gizi,” papar Nila F Moeloek ketika ditemui di temu media hasil Riskesdas 2018, Jakarta, Jumat, (02/11/2018).

Menurut data Riskesdas 2013 gizi kurang dan buruk mencapai angka 19,6 persen sedangkan pada 2018, gizi kurang dan buruk mencapai 17,7 persen.

“Sudah ada penurunan sekitar 1,9 persen yg kelihatan dari angka status gizi tersebut. Tertinggi di kepulauan Bali, Riau, dan Bengkulu, buat gizi baik,” kata Joko Irianto, kepala bidang upaya kesehatan masyarakat Kementerian Kesehatan RI.

Kemudian, bagi hasil dari proporsi anak yg sangat pendek dan pendek pada tahun 2013, 37,2 persen dan pada 2018 menjadi 30,8 persen.

“Penurunan yg paling tinggi ada di DKI Jakarta. Tetapi masih ada persoalan di Indonesia bagian Timur dan juga di Aceh. Namun, demikian juga telah mengalami penurunan di Indonesia Timur,” tambah Joko.

Selanjutnya buat status gizi kurus dan gemuk pada balita ini juga mengalami penurunan. Pada 2013 sangat kurus dan kurus mencapai 12,1 persen, dan 2018 menjadi 10,2 persen.

Kemudian, yg menjadi perhatian lainnya adalah tentang kesehatan Ibu terutama ketika melahirkan. Kesehatan Ibu di Indonesia juga kelihatan membaik dari hasil Riskesdas 2018. Ini kelihatan dari meningkatnya proporsi pemeriksaan kehamilan dari 95,2 persen pada Riskesdas 2013 kini menjadi 96,1 persen, proporsi pemeriksaan (K1 ideal), dari 81,3 persen (Riskesdas 2013) menjadi 86 persen, proporsi pemeriksaan kehamilan (k4) dari 70 persen pada 2013 menjadi 74,1 persen, proporsi persalinan di fasilitas keseahtan dari 66,7 persen pada 2013 menjadi 79,3 pesen.

Sama halnya dengan proporsi pelayanan kunjungan nifas lengkap yg meningkat dari 32,1 persen pada 2013 menjadi 37 persen.

“Demikian juga bagi melahirkan dengan bidan tetap bagus dan melahirkan dengan dukun turun dari 17 persen jadi 7 persen. dan meningkatnya melahirkan dengan dokter. Mungkin karena kualitas dan perilaku masyarakat yg lebih baik ketika ini,’ tambah Menkes. (tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin