Nyeri Kepala Kronik? Waspadai Kanker Otak

Jakarta – Nyeri kepala tidak jarang dialami banyak orang. Jika serangan nyeri kepala sesekali sifatnya ringan, dan memiliki waktu yg pendek, serta disertai gejala penyakit yang lain seperti influenza, infeksi, kurang istirahat dan lain-lain maka nyeri kepala tak terlalu mengkhawatirkan. Namun, seandainya nyeri kepala terasa parah atau sering, periksakanlah karena mampu jadi yaitu gejala kanker otak.

Demikian penjelasan dr. Reza A Digambiro, M.Kes , M.Ked (PA), Sp.PA dalam paparannya di Seminar Current Cancer Care 2018 pada, Sabtu (3/3/2018) di Nifarro Hall Jakarta Selatan.

“Statistik memamerkan populasi penderita sakit kepala berulang, sekitar 50% memiliki tumor otak dengan sakit kepala sebagai keluhan utama, dan sampai 60% pada pasien dengan sakit kepala yg semakin memburuk. Namun demikian diagnosa kanker otak harus disertai tanda dan gejala lainnya seperti kejang atau penurunan daya belajar (kognitif),” ujar dr Reza.

Ia memaparkan, manifestasi gejala nyeri kepala pada kanker otak umumnya berupa rasa tegang (tension type headache) dan muncul dengan intensitas yg cukup sering, bertahap dan selanjutnya mereda setelah beberapa jam. Gejala sakit kepala juga dapat berdenyut, menyerupai migrain.

Tumor otak, lanjutnya, juga bisa menghambat aliran cairan serebrospinal yg diikuti peningkatan tekanan intrakranial dan terus disertai oleh nyeri kepala. Hasil pemeriksaan syaraf seringkali memamerkan hasil yg normal dan tak ada keluhan lain. Gejala tunggal sakit kepala jarang berhubungan dengan tumor atau kanker otak.

Gambaran nyeri kepala yg perlu dicurigai sebagai penanda kanker otak antara lain, perubahan pola sakit kepala sebelumnya, seperti menjadi lebih kadang dan lebih berat; sakit kepala tak reda saat diberikan obat seperti biasanya serta sakit kepala semakin buruk saat membungkuk, batuk, bersin.

“Selain itu terjadi muntah berulang-ulang, nasalah pada anggota gerak, misalnya rasa lemah pada salah satu atau beberapa angggota gerak, atau bahkan kelumpuhan. Masalah sensorik (panca indra), atau gangguan visual. Gangguan memori. Gangguan kepribadian, atau berpikir,” ujar dr Reza.

Ia menambahkan, perokok atau pasien dengan riwayat kanker, termasuk paru-paru, payudara, prostat, atau kanker leher, memiliki risiko tinggi kanker otak akibat proses penyebaran (metastasis) kanker tersebut ke otak. “Perlu waktu yg cukup lama hingga tumor itu tumbuh sehingga menimbulkan gejala-gejala kanker otak. Gejala-gejala yg muncul juga baru memberikan kecurigaan buat dikerjakan pemeriksaan penunjang selanjutnya,” tambah dr Reza.

Beberapa tumor ditemukan secara tak sengaja, seperti selama pemeriksaan rutin bagi sakit kepala migrain atau setelah trauma kepala ringan, meski ini sangat jarang. Seringkali penderita tumor otak mengalami gangguan penglihatan, kelemahan pada satu sisi tubuh, bicara cadel, gangguan pendengaran, telinga berdenging, ketidakseimbangan, pusing, persoalan memori dan atau kognitif, kejang, atau bahkan inkontinensia (tidak bisa menahan kencing atau BAB) secara tiba-tiba.

“Untuk memastikan diagnosis tumor atau kanker otak, dokter mulai melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang berupa pemeriksaan darah, foto rongsen, CT-Scan, ataupun MRI. Jadi, saat Anda mengalami sakit kepala yg tidak tidak wajar sepeti sudah dijelaskan di atas, maka periksalah ke dokter buat memastikan ada tidaknya kanker otak,” jelasnya.
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin