Perkembangan Emosi Dapat Pengaruhi Pola Makan Anak

Jakarta – Anak – anak usia 1 – 5 tahun kerap mengalami persoalan pada pola makan. Ternyata hal ini dipengaruhi oleh sifat perkembangan emosi mereka.

Pada usia prasekolah, anak mengalami perkembangan psikis menjadi lebih mandiri, autonom, mampu berinteraksi dengan lingkungannya, serta lebih mengekspresikan emosinya. Ini Bentuk luapan emosi yg biasa terjadi adalah menangis atau menjerit ketika anak tak merasa nyaman.

Sifat perkembangan yg terbentuk ini mampu mempengaruhi pola makan anak. Hal tersebut menyebabkan anak terkadang bersikap terlalu pemilih, misalnya cenderung menyukai makanan ringan, sehingga menjadi kenyang dan menolak makan ketika waktu jam makan.

Anak juga kadang rewel dan memilih bermain ketika orangtua menyuapi makanan. Anak mulai mengalami kesulitan makan seandainya tak langsung diatasi. Proses pembelajaran makan yg baik sangat utama buat anak di fase usia prasekolah agar dia tumbuh sehat dan cerdas. Hal tersebut biasa dikenal dengan sebutan picky eater.

Menurut Prof. Dr. Rini Sekartini, SpA, picky eater yaitu gangguan perilaku makan pada anak yg berhubungan dengan perkembangan psikologis tumbuh kembangnya dan ditandai dengan keengganan anak coba macam makanan baru (neofobia).

“Kemudian anak mengalami pembatasan terhadap macam makanan tertentu terutama sayur dan buah, dan secara ekstrim tak tertarik terhadap makanan dengan berbagai cara yg dilakukan, merupakan menampik makanan yg tak dia sukai, mengemut makanan, dan menutup mulut dengan pertemuan pada ketika menghadapi makanan yg tak dia sukai,” ujar Rini, Jakarta, Senin, (08/10/2018).

Masih menurutnya, anak yg suka pilih-pilih makanan atau cuma mau makanan tertentu tidak jarang disebut picky eater. Sebagian besar ibu mungkin anaknya pernah mengalaminya. Anak biasanya cuma mau makan makanan tertentu, tidak jarang tutup mulut menolak makanan yg diberikan, bahkan sampai nangis terus-menerus.

Kondisi tersebut mulai mempengaruhi perkembangan gizi pada anak. Karena, kecukupan gizi pada anak sangat utama agar anak tumbuh optimal dan tak mengalami gagal tumbuh dan gizi buruk.

Menurut sensus yg dikerjakan World Health Organization (WHO) (2012, dalam Rohmasari, 2013) diketahui bahwa 42 persen dari 15,7 juta kematian anak di bawah 5 tahun terjadi di negara berkembang dan sebagian besar disebabkan gizi buruk. Dari data tersebut sebanyak 84 persen masalah kekurangan gizi anak usia di bawah lima tahun (balita) terjadi di Asia dan Afrika.

Sedangkan di Indonesia, tahun 2012, terdapat sekitar 53 persen anak di bawah usia 5 tahun menderita gizi buruk yg disebabkan oleh kurangnya makanan bagi mencukupi kebutuhan gizi sehari-hari (Depkes, 2012). Kondisi ini menyebabkan banyak anak Indonesia mengalami stunting.

Stunting yaitu keadaan gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yg lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 memperlihatkan prevalensi Balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6 persen di atas batasan yg ditetapkan WHO (20 persen). (tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin