Picky Eater Bisa Sebabkan Anak Alami Gizi Buruk

Jakarta – Masalah makan sangat besar dialami tak cuma anak di dunia tapi di Indonesia, khususnya di Jakarta.

Peneliti di National Institute of Health Research and Development terhadap anak prasekolah di Jakarta tahun 2015 memamerkan hasil prevalensi kesulitan makan sebesar 33,6 persen. Angka tersebut cukup memprihatinkan.

Kemudian, terdapat 44,5 persen di antaranya menderita malnutrisi ringan sampai sedang dan 79,2 persen dari subjek penelitian sudah mengalami kesulitan makan lebih dari 3 bulan. Kelompok usia terbanyak mengalami kesulitan makan adalah usia 1 sampai 5 tahun (58 persen). Sebanyak 43 persen anak yg mengalami kesulitan makan mengalami gizi buruk.

Sementara itu, masih merujuk studi Sudibyo, kebanyakan masalah sulit makan berupa menghabiskan makanan kurang dari sepertiga porsi (27,5 persen), menolak makan (24,8 persen), anak rewel dan merasa tak senang atau marah (22,9 persen), cuma menyukai satu macam makanan (7,3 persen), cuma mau minum susu (18,3 persen), memerlukan waktu > 1 jam bagi makan (19,3 persen), dan mengemut (15,6 persen).

Adapun sebanyak 50 persen anak yg mengalami susah makan memiliki keluhan gangguan kenaikan berat badan, 22 persen rewel, 12 persen nyeri epigastrium, 10 persen back arching, dan 6 persen nyeri menelan serta kadang muntah.

Kondisi anak pilih-pilih makanan seperti itu dikenal dengan istilah picky eater. Picky eater mampu menjadi gejala yg merugikan kesehatan anak apabila tak langsung diatasi. Picky eater dapat membuat anak kekurangan asupan gizi yg selanjutnya menyebabkan anak mengalami gizi buruk.

Menurut sensus yg dikerjakan World Health Organization (WHO) (2012, dalam Rohmasari, 2013) diketahui bahwa 42 persen dari 15,7 juta kematian anak di bawah 5 tahun terjadi di negara berkembang dan sebagian besar disebabkan gizi buruk. Dari data tersebut sebanyak 84 persen perkara kekurangan gizi anak usia di bawah lima tahun (balita) terjadi di Asia dan Afrika. Sedangkan di Indonesia, tahun 2012, terdapat sekitar 53 persen anak di bawah usia 5 tahun menderita gizi buruk yg disebabkan oleh kurangnya makanan bagi mencukupi kebutuhan gizi sehari-hari (Depkes, 2012). Kondisi ini menyebabkan banyak anak Indonesia mengalami stunting.

Stunting yaitu keadaan gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yg lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 memperlihatkan prevalensi Balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6 persen di atas batasan yg ditetapkan WHO (20 persen).

Penelitian Ricardo dalam Bhutta tahun 2013 menyebutkan, balita stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta (15%) kematian anak balita di dunia dan menyebabkan 55 juta anak kehilangan masa hidup sehat setiap tahun. Kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran). Penyebabnya karena rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani, dan diperparah dengan gelaja picky eater.

Sayangnya Indonesia berada di peringkat ke 5 negara dengan angka stunting tertinggi di dunia. Pemerintah pun gusar dengan keadaan ini. Beberapa program dan kampanye digelar. Salah satunya Isi Piringku yg diluncurkan pada Hari kesehatan Nasional (Harkesnas) tahun lalu.

Menurut Prof. Dr. Rini Sekartini, SpA, picky eater yaitu gangguan perilaku makan pada anak yg berhubungan dengan perkembangan psikologis tumbuh kembangnya dan ditandai dengan keengganan anak coba macam makanan baru (neofobia), pembatasan terhadap macam makanan tertentu terutama sayur dan buah, dan secara ekstrim tak tertarik terhadap makanan dengan berbagai cara yg dilakukan, merupakan menampik makanan yg tak dia sukai, mengemut makanan, dan menutup mulut dengan pertemuan pada ketika menghadapi makanan yg tak dia sukai.

“Anak yg suka pilih-pilih makanan atau cuma mau makanan tertentu tidak jarang disebut picky eater. Sebagian besar ibu mungkin anaknya pernah mengalaminya. Anak biasanya cuma mau makan makanan tertentu, kadang tutup mulut menolak makanan yg diberikan, bahkan sampai nangis terus-menerus,” ujar Prof. Rini, Jakarta, Senin, (08/10/2018).

Picky eater ditandai dengan pertumbuhan tubuh terhenti, perubahan perilaku, lesu, kehilangan selera makan, dan kekurangan berat badan. Kondisi ini dapat mengganggu kesehatan anak. Namun sayangnya, banyak orangtua yg salah kaprah menyiasati picky eater dengan memberikan susu sebagai solusi. Padahal, susu sebetulnya cuma sebagai pelengkap.

Prof. Rini menjelaskan, susu yaitu salah satu asupan makanan buat anak pada masa bayi, terutama 6 bulan pertama ASI yaitu makanan penting bayi.

“Setelah 6 bulan, ditambahkan MP ASI (Makanan Pendamping ASI) sebagai pelengkap karena kebutuhan anak meningkat. Setelah 1 tahun anak bisa diberikan makanan keluarga, berupa nasi lauk pauk, sayur dan buah plus susu sebagai pelengkap,” tuturnya.

Perlu diketahui bahwa susu memang kaya gizi, tetapi kandungan zat besi di dalamnya biasanya kurang optimal. Dalam 1000 cc susu cuma mengandung 0,5-2 mg zat besi. Sedangkan bayi 1 tahun saja butuh 6 g zat besi setiap hari.

Itulah mengapa sebaiknya orang tua tak cuma mengandalkan susu buat memenuhi kecukupan gizi anak. Berikan makanan seimbang yg kaya nutrisi, termasuk kecukupan zat besi di setiap usia.

“Pada usia balita kebutuhan susu sekitar 500-600 cc per hari. Selebihnya, anak harus makan. Jadi, susu tak mampu menggantikan makanan yang harus dikonsumsi anak,” tegas Prof. Rini.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin