Susu Kental Manis Beda Dengan Krimer Kental Manis?

Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan bahwa susu kental manis (SKM) yaitu susu dan aman buat dikonsumsi.

Kemudian apa yg membedakan antara Susu Kental Manis dengan Krimer Kental Manis? Perka BPOM no 21/2016 menyebutkan bahwa ada 9 macam yg masuk dalam subkategori Susu Kental merupakan Susu evaporasi, susu skim evaporasi, susu lemak nabati evaporasi, susu kental manis, susu kental manis lemak nabati, susu skim kental manis, krim kental manis, krimer kental manis, dan khoa.

Dalam konferensi pers di Aula Gedung C BPOM, Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Senin (9/7), Direktur Pengawasan Pangan Risiko Tinggi dan Teknologi Baru, Tetty Helfery Sihombing menyampaikan bahwa krimer kental manis dapat mengandung krim maupun susu.

“Susu kental manis adalah produk yg mengandung susu . Ada juga krimer kental manis (KKM) yg memasukkan susu tetapi kandungan susunya lebih kecil dari pada di susu kental manis,” ujar Tetty.

Sejak awal kemunculannya, susu kental manis diharuskan mengandung kandungan susu. Hal ini makin diperjelas dengan Peraturan BPOM No. 21 Tahun 2016 yg merinci definisi dari susu kental manis.

Dalam hal itu dijelaskan bahwa, susu kental manis adalah produk susu berbentuk cairan kental yg diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu; atau yaitu hasil rekonstitusi susu bubuk dengan penambahan gula, dengan atau tanpa penambahan bahan lain.

Khusus buat susu kental manis yg dibuat dari susu sapi dengan campuran gula dan air, memiliki padatan susu kisaran 20 persen. Selain padatan ini juga terdapat protein, vitamin, mineral, dan lemak. Adapun, karakteristik dasar dari susu kental manis adalah memiliki kadar lemak susu tak kurang dari 8 persen dan kadar protein tak kurang dari 6,5 persen (untuk plain).

BPOM melalui Kepala Badan POM RI Penny Lukito juga menegaskan bahwa produk susu kental manis yaitu produk yg mengandung susu dan aman bagi dikonsumsi.

“Terkait susu kental manis itu telah jelas, bahwa susu kental manis yaitu produk yg mengandung susu yg sesuai dengan kategori pangan,” jelas Penny dalam kesempatan tersebut.

Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (PKGK FKM UI), Ir. Ahmad Syafiq, MSc, PhD, yg dihubungi secara terpisah memberikan pandangannya mengenai susu kental manis. Ia menyebutkan bahwa susu kental manis memiliki kadar protein yg relatif lebih tinggi dibanding macam lainnya dalam kategori Susu Kental. Susu kental manis juga dinilai mempunyai kualitas gizi yg hampir setara dengan susu lainnya. Yang membedakan antara susu kental manis dengan produk susu lainnya seperti cair maupun bubuk cuma terletak pada jumlah kandungan susu.

“Sama saja dari segi kualitas, meski secara jumlah kandungan susu berbeda. Perlu diingat bahwa seluruh macam makanan saling melengkapi. Tidak ada makanan atau minuman tunggal yg bisa memenuhi kebutuhan gizi seseorang. Siapa saja boleh mengonsumsi susu kental manis dalam jumlah tak berlebihan. Namun susu kental manis tak cocok buat bayi dan perlu juga diperhatikan bahwa kebutuhan pertumbuhan anak perlu konsumsi protein hewani yg cukup. Sehingga diperlukan asupan protein dari sumber hewani,” ujar Ir. Ahmad, seperti yg dikutip dari siaran pers, Jakarta, Kamis, (19/07/2018).

Ia menegaskan bahwa gula dalam susu kental manis bukanlah sesuatu yg harus ditakuti. Gula dalam susu kental manis dibutuhkan buat mencegah kerusakan produk. Produk dipasteurisasi dan dikemas secara kedap (hermetis). Dalam proses pembuatannya, air dari susu diuapkan ditambahkan gula yg juga berfungsi sebagai pengawet. Sehingga gula memang dibutuhkan dalam produk susu kental manis.

Menyikapi kebingungan masyarakat terkait susu kental manis, ia menyampaikan bahwa pemerintah harus selalu meningkatkan upaya peningkatan literasi gizi masyarakat serta selalu melaksanakan upaya menyusun kebijakan berbasis evidens. Di sisi lain, ia juga menyarankan agar masyarakat jangan gampang terprovokasi dengan kehebohan.

“Pemerintah diharapkan memberikan edukasi kepada masyarakat agar masyarakat tak resah dan kebingungan dengan keterangan yg beredar. Sementara, masyarakat perlu bijak dalam menyikapi kehebohan, tak panik dan meningkatkan pengetahuannya mengenai gizi seimbang serta kebutuhan dan kecukupan gizi. Kita harus mau mencari keterangan dari ahli gizi yg kompeten,” tutup Syafiq.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin