Treatment Terbaru Bagi Pasien Limfoma

Tanggerang Selatan – Limfoma yaitu salah satu dari penyakit terbanyak di dunia. Lantas bagaimana bagi mengatasinya?

Hal tersebut berasal dari Data GLOBOCAN ( IARAC) pada tahun 2012. Kematian akibat penyakit ini, yakni dari Limfoma Non-Hodgkin dan Limfoma Hodgkin masih sangat tinggi, yakni mencapai setengah dari perkara baru.

Untuk di Indonesia, diperkirakan lebih dari 14.500 pasien limfoma yg terdeteksi pada tahun 2013 berdasarkan data Riset Dasar Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik indonesia.

Karena itu, pentingnya edukasi penyakit limfoma yg tren-nya mengalami peningkatan dan adanya keterangan terbaru di dunia farmasi tentang penemuan treatment terbaru untuk pasien limfoma. Inilah salah satu tepik yg mengemuka di acara Rudy Soetikno Memorial Lecture, yg diselenggarakan oleh Dexa di Titan Center Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu, (27/01/2018).

Limfoma yaitu istilah umum bagi berbagai tipe kanker darah yg muncul dalam sistem limfatik, yg menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening. Limfoma disebabkan oleh sel-sel limfosit B atau “i’, merupakan sel darah putih yg dalam kondisi normal atau sehat menjaga daya tahan tubuh kalian buat menangkal infeksi bakteri, jamur, parasit, dan virus, menjadi abnormal dengan membelah lebih cepat dari sel biasa atau hidup lebih lama dari biasanya.

Pada dasarnya, limfoma terbagi menjadi 2 tipe yakni limfoma Hodgkin (LH) dan limfoma Non-Hodgkin (LNH). Sekitar 90 persen pasien limfoma adalah penderita LNH dan sisanya adalah penderita LH.

Penelitian di dunia kesehatan dan farmasi selalu berkembang buat menciptakan penangkal penyakit limfoma agar pasien bisa bertahan hidup lebih lama. Data dari cancer.org, rata-rata hidup penderita limfoma adalah 5 tahun, setelah terdeteksi penyakit limfoma dengan tingkat keganasan tertentu dan treatment tertentu.

Pengembangan Treatment terbaru yg tengah dikembangkan oleh para peneliti dan ahli adalah obat onkologi bendamustine. Bendamustine yaitu obat antitumor teralkilasi dengan aktivitas unik yg memiliki cincin benzomidozale menyerupai purine.

Menurut hasil penelitian yg sudah dikerjakan dan dipublikasi di Jurnal Kedokteran terkemuka LANCET, eleh Prof. Rummel MJ, MD, PhD, dari Rumah Sakit Universitas Giessen di Jerman, penelitian tersebut melibatkan dua kelompok pasien, yakni 77 pasien yg mendapatkan perawatan dengan Bendamustine R dan 109 pasien yg mendapatkan perawatan CHOP-R. Pada bulan ke-117, sebanyak 52 pasien yg memakai CHOP-R mendapatkan treatment Bendamustine R buat pengobatan keduanya. Sementara 27 pasien yg memakai treatment Bendamustine R, menjalani perawatan keduanya dengan CHOP-R.

Hasil penelitian yg dikemukakan pada Pertemuan Tahunan ASCO 2017 itu menunjukkan, treatment Bendamustine plus Rituximab, meningkatkan waktu ke pengobatan berikutnya (TTNT) dibandingkan dengan pasien NHL indolent yg mendapatkan treatment dengan CHOP-R. ini artinya, jadwal perawatan pasien NHL indolent berikutnya mencapai 69,5 bulan kemudian, jauh lebih lama dibandingkan pasien dengan perawatan CHOP-R yg cuma 31,2 bulan kemudian harus mendapatkan perawatan.

“TTNT yg lebih lama, memiliki arti sebagai berkurangnya effort pasien harus mendapatkan perawatan sekunder setelah treatment memakai Bendamustine R. Lamanya durasi ini, bisa dimanfaatkan pasien dengan aktivitas pengendalian penyakit-yang juga mampu mendorong keberlangsungan hidup yg lebih lama pada penderita limfoma,” jelas Prof. Rummel dikutip dari oclive.

Prof. Rummel mengemukakan penelitiannya lebih lanjut. Menurutnya, seandainya ditilik dari keberlangsungan hidup pasien limfoma, angka kematian pasien yg memakai perawatan dengan Bendamustine lebih sedikit seandainya dibandingkan dengan angka kematian pasien dengan perawatan CHOP-R. Dari pasien yg mendapat perawatan Bendarnustine R tersebut, sebanyak 73,9 persennya mendapatkan keberlangsungan hidup hingga 10 tahun.

Melalui penelitian tersebut, juga diperoleh keterangan bahwa treatment dengan Bendamustine ternyata ditentukan keganasan sekunder pada kanker limfoma yg lebih sedikit dibandingkan dengan perawatan lainnya. Sebanyak 37 pasien yg diobati dengan Bendamustine melaporkan adanya 39 keganasan sekunder, sementara 40 pasien yg mendapatkan perawatan dengan cara yang lain mendapati 47 keganasan sekunder.

Data ini memperlihatkan bahwa Bendamustine yaitu terapi alternatif terbaik untuk para pasien Limfoma Non Hodgkin. Bendamustine telah diproduksi di indonesia dengan merek Fonkomustin oleh PT Fonko internatinnal dan diedarkan oleh PT Ferron Par Pharmaceuticals.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin