Vape VS Rokok, Mana Yang Lebih Berisiko?

Jakarta – Universitas Catania di Italia menyebutkan bahwa konsumsi vape tak menimbulkan risiko kesehatan serius dibandingkan dengan rokok biasa yg dikonsumsi dengan cara dibakar.

Riset tesebut menyebutkan bahwa konsumsi vape tak menyebabkan persoalan pada paru-paru, bahkan pada konsumen yg memakai rokok elektrik secara reguler, hal ini dilihat dari sisi fisiologis, klinis, ataupun inflamasi. Lebih lanjut, tak ada perubahan yg berarti pada tekanan darah atau denyut jantung para penggunanya.

“Kami tak menemukan bukti adanya persoalan kesehatan, terkait penggunaan rokok elektrik dalam jangka panjang berdasarkan riset kami,” kata Riccardo Polosa, Direktur Universitas Catania di Italia, seperti yg dikutip dari siaran pers yg diterima, Jumat (22/12/2017).

Laporan ini yaitu hasil studi selama 3,5 tahun dengan menyasar pengguna vape pada usia 23-35 tahun, serta menyasar sekelompok orang non-perokok lainnya dengan rentang usia yg sama. Para peneliti melakukan studi dari beberapa faktor kesehatan seperti tekanan darah, denyut jantung, berat badan, fungsi paru-paru, gejala pernafasan, nafas oksida nitrat, penghembusan karbon monoksida, dan tomografi resolusi tinggi pada paru-paru. Riset tersebut dipublikasikan di Jurnal Scientific Reports.

“Tidak ada temuan patologis yg mampu diidentifikasi pada tomografi resolusi tinggi pada paru-paru dan tak ada gejala pernafasan yg dilaporkan secara konsisten pada pengguna rokok elektrik,” tambah Polosa.

Studi dengan topik serupa juga telah dilaksanakan di Indonesia oleh Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) dan membuktikan bahwa vape sebagai produk tembakau alternatif membawa manfaat menekan risiko kesehatan. YPKP masih selalu mensosialisasikan hasil riset ini ke masyarakat yg masih mengosumsi rokok yg dikonsumsi dengan cara dibakar.

Pendiri YPKP Prof Dr. Achmad Syawqie Yazid mengatakan, “Hasilnya, produk tembakau alternatif ini memiliki risiko kesehatan yg jauh lebih rendah dibanding rokok yg dikonsumsi dengan dibakar. Hal ini terjadi karena produk yg tak dibakar mampu mengeliminasi TAR, racun berbahaya yg dihasilkan dari pembakaran tembakau dan sebagian bersifat karsinogenik”.

Syawqie juga menyebutkan inovasi dari produk tembakau alternatif mampu menjadi solusi efisien buat mengatasi persoalan adiksi rokok. Konsep pengurangan risiko atau pengurangan bahaya (harm reduction) yaitu strategi ilmu kesehatan masyarakat yg bertujuan mengurangi konsekuensi negatif kesehatan dari sebuah produk atau perilaku.

“Saat ini, masih banyak penafsiran yg salah terkait produk tembakau alternatif seperti nikotin tempel, snus, vape, dan produk tembakau yg dipanaskan bukan dibakar, padahal, produk-produk tersebut sudah terbukti secara klinis mampu menjadi alternatif buat menekan dampak buruk dari rokok yg dikonsumsi dengan cara dibakar,” tambahnya.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin