Waspadai Kebiasaan Buruk Jajan Anak Di Sekolah

Jakarta-Kebiasaan jajan pada anak-anak rupanya berdampak buruk pada kesehatan dan obesitas. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan, 1 dari 3 anak usia 5-12 tahun menderita persoalan gizi jajan kurang higienis dan sehat.

“Selain itu, fakta memamerkan bahwa 40 persen anak masih belum membiasakan sarapan, semakin mendorong anak bagi jajan di sekolah. Kondisi tersebut perlu diatasi melalui upaya dari segala masyarakat sekolah buat memperbaiki pola makan termasuk jajan yg sehat, aman, dan bergizi,” kata Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MS, Sekretaris Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB dalam informasi tertulis, Rabu (1/11/2017).

Hal senada diungkapkan oleh Talitha Andini Prameswari, Project Manager Warung Anak Sehat (WAS) Sarihusada. Menurutnya anak-anak di atas usia 5 tahun umumnya telah memiliki kemampuan membuat keputusan yg dapat memengaruhi keputusan orangtua agar mengikuti apa yg mereka inginkan, seperti kebiasaan memilih jajanan.

“Anak usia lima tahun ke atas dapat melewatkan makanan pokok mereka dan lebih memilih jajan, sehingga makanan mereka tak lengkap,” kata Anna.

Sementara itu, berdasarkan Laporan Aksi Nasional Pangan dan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) tahun 2014, sebanyak 23,82 persen jajanan anak sekolah yg diuji oleh BPOM masih tak memenuhi syarat akibat cemaran biologi. Inilah pentingnya edukasi gizi yg tepat, tak cuma pada anak-anak, tetapi juga kepada orangtua serta lingkungan sekolah.

Edukasi gizi ini kemudian diwujudkan Sarihusada melalui program Warung Anak Sehat (WAS). Talitha menjelaskan, WAS memiliki tujuan buat mengurangi angka malnutrisi pada anak-anak usia 5-12 tahun. WAS memberikan akses jajajan sehat kepada anak-anak sekolah dengan cara melatih para ibu membuat jajanan bernutrisi dan aman.

Hingga 2017, WAS telah menjangkau empat kota di Indonesia merupakan Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Ambon, dengan jumlah 350 ibu WAS. Program ini berfokus pada pemenuhan gizi sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang dan pemberdayaan perempuan melalui usaha mikro.

Selain itu, dengan menggandeng IPB, WAS melakukan edukasi gizi yg menyasar para guru, orangtua, dan penjual jajanan di lingkungan sekolah, khususnya kantin sekolah atau disebut dengan Ibu Warung Anak Sehat. [adc]
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin