4 Alasan Ratusan Musisi Tolak Pengesahan RUU Permusikan

JAKARTA, – Sebanyak 260 musisi yg tergabung dalam Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan menolak pengesahan draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan.

Koalisi menilai tak ada urgensi buat Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah buat membahas serta mengesahkan RUU Permusikan bagi menjadi Undang-Undang.

Sebab, draf RUU Permusikan dinilai menyimpan banyak persoalan yg berpotensi membatasi, menghambat dukungan perkembangan proses kreasi dan justru merepresi para pekerja musik.

Atas penolakan itu, koalisi juga menginisiasi petisi daring penolakan RUU Permusikan melalui www.change.org.

Baca juga: 260 Musisi Tolak Pengesahan RUU Permusikan

Hingga Selasa (5/2/2019) pukul 10.00 WIB, sebanyak 170.323 orang sudah mendukung petisi tersebut.

Setidaknya terdapat empat alasan yg mendasari ratusan musisi dari berbagai genre itu menolak RUU Permusikan. Keempat alasan tersebut adalah:

1. Pasal Karet

Salah satu pasal yg dipersoalkan oleh koalisi adalah Pasal 5.

Pasal itu berisi larangan untuk setiap orang dalam berkreasi untuk:

(a) mendorong khalayak melakukan kekerasan dan perjudian serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat aditif lainnya;

(b) memuat konten pornografi, kekerasan seksual, dan ekspoitasi anak;

(c) memprovokasi pertentangan antarkelompok, antarsuku, antarras, dan/atau antargolongan;

(d) menistakan, melecehkan, dan/atau menodai nilai agama;

(e) mendorong khalayak umum melakukan tindakan melawan hukum;

(f) membawa pengaruh negatif budaya asing; dan/atau

(g) merendahkan harkat dan martabat manusia.

Menurut Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca, pasal tersebut bersifat karet dan membuka ruang buat kelompok penguasa atau siapapun buat melakukan persekusi.

Selain itu, Cholil menilai pasal tersebut bertolakbelakang dengan semangat kebebasan berekspresi dalam berdemokrasi yg dijamin oleh UUD 1945.

“Pasal karet seperti ini membukakan ruang untuk kelompok penguasa atau siapapun buat mempersekusi proses kreasi yg tak mereka sukai,” kata Cholil seperti dikutip dari siaran pers yg diterima , Senin (4/2/2019).

2. Memarjinalisasi musisi independen dan berpihak pada industri besar 

Koalisi menilai RUU Permusikan memuat beberapa pasal yg mensyaratkan sertifikasi pekerja musik. Pasal itu dinilai berpotensi memarjinalisasikan musisi independen.

Pasal 10 RUU Permusikan mengatur distribusi karya musik dengan tak memberikan ruang kepada musisi bagi melakukan distribusi karyanya secara mandiri. Menurut koalisi, pasal ini sangat berpotensi memarjinalisasi musisi, terutama musisi independen.

Menurut musisi folk Jason Ranti, pasal ini menegasikan praktik distribusi karya musik oleh banyak musisi yg tak tergabung dalam label atau distributor besar.

“Ini kan curang,” kata Jason.

3. Uji Kompetensi dan Sertifikasi

Koalisi memandang bahwa ketentuan mengenai uji kompetensi dan sertifikasi berpotensi mendiskriminasi musisi.

Di banyak negara memang memang menerapkan praktik uji kompetensi buat pelaku musik. Namun tak ada satu pun negara yg mewajibkan segala pelaku musik melakukan uji kompetensi.

Selain itu, pasal-pasal terkait uji kompetensi ini berpotensi mendiskriminasi musisi autodidak bagi tak mampu melakukan pertunjukan musik seandainya tak mengikuti uji kompetensi.

4. Mengatur Hal yg Tak Perlu Diatur

Koalisi melihat setidaknya ada 19 pasal yg bermasalah. Mulai dari ketidakjelasan redaksional, ketidakjelasan subyek dan obyek hukum yg diatur, hingga masalah atas jaminan kebebasan berekspresi dalam bermusik.

Misalnya, pasal 11 dan pasal 15 cuma memuat keterangan umum tentang cara mendistribusikan karya yg telah diketahui dan banyak dipraktikkan oleh para pelaku musik serta bagaimana masyarakat menikmati sebuah karya.

Kedua pasal ini dianggap tak memiliki bobot nilai yg lebih sebagai sebuah pasal yg tertuang dalam peraturan setingkat Undang-undang.

Demikian pula dengan pasal 13 tentang kewajiban memakai label berbahasa Indonesia. Koalisi menilai penggunaan label berbahasa Indonesia pada karya seni seharusnya tak perlu diatur.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Post Author: admin