Ahli Hukum Yang Dihadirkan Fredrich Tak Setuju Korupsi Disebut Kejahatan Luar Biasa

JAKARTA, – Ahli hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia (UII) Muzakir dihadirkan sebagai ahli dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (14/5/2018).

Muzakir dihadirkan oleh terdakwa Fredrich Yunadi sebagai ahli yg meringankan.

Dalam persidangan, Muzakir secara terang-terangan menyatakan tak setuju dengan sikap Indonesia yg menilai tindak pidana korupsi secara umum sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime).

Baca juga: Menurut Saksi, Istri Novanto Tak Mau Tanda Tangan Setelah Lihat Fredrich Menolak

Hal itu dia katakan ketika menjawab pertanyaan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Saya menolak korupsi disebut sebagai extraordinary crime. Menurut ahli (saya), Indonesia mengategorikan extraordinary karena pengaruh reformasi saja, waktu itu ramai soal KKN,” ujar Muzakir.

Menurut Muzakir, tindak pidana korupsi awalnya diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Undang-undang tersebut dibentuk sebagai aturan pidana umum.

“Bahaya, karena sumbernya UU KUHP. Delik biasa tiba-tiba berubah jadi khusus. Dari argumen hukum ini enggak bisa,” kata Muzakir.

Baca juga: Fredrich Yunadi Ingin Hadirkan Ahli yg Sangat Paham soal KPK

Selain itu, menurut Muzakir, istilah kejahatan luar biasa seharusnya didasarkan pada tingkat korupsi yg dilakukan. Misalnya, penyebutan luar biasa apabila korupsi yg dikerjakan di atas Rp 1 triliun.

Dengan demikian, menurut Muzakir, korupsi yg skalanya lebih kecil dari Rp 1 triliun cukup disebut sebagai kejahatan biasa saja.

“Sekarang yg disebut extraordinary crime dalam dunia internasional itu dinilai dari nilai korupsinya,” kata Muzakir.

Baca juga: Jadi Saksi Meringankan bagi Fredrich, Boyamin Mengaku Awalnya Bermusuhan

Muzakir mengatakan, ia pernah menyarankan agar kewenangan khusus yg diberikan undang-undang kepada KPK bisa dihapus.

Jika tak dihapus, Muzakir berpendapat bahwa semestinya kewenangan khusus itu diberikan juga kepada jaksa dan kepolisian.

Selain itu, KPK dibatasi cuma menangani korupsi yg nilainya lebih dari Rp 1 triliun.

TV Bimanesh menyebutkan kecelakaan mobil yg ditumpangi Setya Novanto yaitu rekayasa.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112’); });

Sumber: http://nasional.kompas.com

Post Author: admin