Gagal Dua Kali Pilpres, Prabowo Dinilai Sulit Hadapi Jokowi Di 2019

JAKARTA, – Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya memprediksi posisi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mulai sulit dalam menghadapi Presiden Joko Widodo pada pemilihan presiden ( Pilpres) 2019.

Pasalnya, Prabowo tercatat telah dua kali mencalonkan diri, merupakan di Pilpres 2009 sebagai cawapres Megawati dan di Pilpres 2014 sebagai capres. Namun, Prabowo gagal.

“Kalau kalian memakai pendekatan kualitatif atau pendekatan brand, sebuah produk yg pernah di-launching dua kali dan gagal berturut-turut biasanya sulit buat di-launching ketiga kalinya dan berhasil. Itu Pak Prabowo menurut saya,” ujar Yunarto ketika dihubungi, Kamis (12/4/2018).

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya ketika ditemui di Setiabudi Building II, Jakarta Selatan, Selasa (24/5/2016)./Kurnia Sari Aziza Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya ketika ditemui di Setiabudi Building II, Jakarta Selatan, Selasa (24/5/2016).

Menurut Yunarto, posisi Prabowo mulai lebih menguntungkan bila menjadi king maker dengan mengajukan calon lain. Misalnya, figur mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Belakangan mereka disebut-sebut sebagai calon kuat pendamping Prabowo. 

Baca juga : 3 Faktor Ini Buat Prabowo Belum Pasti Maju Pilpres 2019

Yunarto mengatakan, meskipun elektabilitas Gatot dan Anies ketika ini masih rendah, namun ia menilai keduanya memiliki efek kejut yg tak dimiliki oleh Prabowo.

Ia mencontohkan bagaimana Anies dapat mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

“Saya meyakini peluang Gatot dan Anies masih ada. Walaupun elektabilitasnya rendah saat disurvei tetapi dia mampu milik efek kejut, daya kejut yg tak dimiliki oleh Prabowo. Jadi menurut aku faktor fresh itu telah hilang dari Prabowo dengan kegagalan dua kali yg dialami dari dua pemilu,” kata Yunarto.

“Itu menurut aku menarik bagi dikaji dalam konteks ingin memenangkan pertarungan dengan Jokowi yg tak mudah,” ucapnya.

Sementara seandainya dilihat dari sisi logistik, kata Yunarto, Gatot kemungkinan besar lebih bersiap daripada Anies.

Baca juga : Saat Prabowo Putuskan Kembali Jadi Capres…

Ia merujuk pada pernyataan mantan Kepala Staf Kostrad (Kas Kostrad) ABRI Kivlan Zen yang menyebut Gatot memiliki uang lebih banyak dibandingkan Prabowo.

Yunarto menyampaikan faktor kesiapan logistik sangat menentukan menentukan seseorang saat maju dalam pemilu.

“Celetukan Kivlan Zein menurut aku menyiratkan sesuatu bahwa Gatot jangan-jangan lebih bersiap secara logistik,” tuturnya.

Keputusan buat memajukan calon yang lain selain Prabowo tentu juga memiliki dampak negatif, terutama buat Partai Gerindra.

Yunarto memastikan keputusan itu mulai sangat berpengaruh pada elektabilitas Gerindra.

Namun, hal itu mampu diantisipasi seandainya Prabowo berhasil meyakinkan konstituennya bahwa Gatot dan Anies atau figur yang lain yg diusung yaitu bagian dari Partai Gerindra.

“Kecuali dia (Prabowo) mampu membalik posisi politik Gatot atau Anies di Gerindra dan dalam waktu cepat dapat dianggap sebagai kembang baru Gerindra dengan menempatkan Prabowo sebagai seorang king maker saja. Kalau itu mampu dikerjakan dengan baik bukan tak mungkin terjadi win win solution,” kata Yunarto.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112’); });

Sumber: http://nasional.kompas.com

Post Author: admin