Gubernur Bali Harapkan Status Gunung Agung Diturunkan

Denpasar – Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengharapkan status vulkanik Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, yg ketika ini masih berstatus Awas bisa diturunkan agar sebagian kegiatan perekonomian masyarakat setempat bisa kembali hidup.

“Kalau jika ini dapat diturunkan statusnya menjadi Siaga saja, radiusnya menjadi enam kilometer. Kalau menjadi enam kilometer, berarti yg mengungsi itu tinggal setengahnya saja, dan kegiatan perekonomian setengahnya mulai hidup,” kata Pastika usai menghadiri Sidang Paripurna DPRD Provinsi Bali, di Denpasar, Selasa.

Dia tak memungkiri seandainya berdasarkan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) belum berani menurunkan status.

Menurut dia, kalau dilihat fakta penetapan status Awas yg telah sebulan lebih (sejak 22 September 2017) sudah menimbulkan dampak yg panjang baik dari sisi ekonomi, psikologi, pendidikan, kesehatan, hingga pemuktahiran data pemilih, bahkan kejenuhan para pengungsi.

Di samping itu, lanjut dia, dampak material bangunan menjadi tak ada. Bukan saja masyarakat di sekitar Gunung Agung yg menjadi tak bekerja, namun juga untuk pekerja bangunan yg menjadi tak bekerja lagi, hingga berpengaruh tersendatnya target penyelesaian sejumlah proyek pemerintah hingga permasalahan anggaran.

“Masalah kontrak (proyek pemerintah-red) itu tak gampang. Misalnya tak selesai tahun ini, dipotong di jalan, belum tentu dapat dipakai anggaran 2018. Kalau harus dipakai pada anggaran 2018 Perubahan itu sekitar November, berapa mundurnya itu,” ucap Pastika.

Menurut Pastika, dengan sistem “early detection” dan “early warning”, dengan kemajuan transportasi, teknologi, dan komunikasi, seharusnya mampu diturunkan.

“Karena kalau terus-menerus begini, dampaknya panjang sekali. Inilah yg juga dasar dari Menko Maritim buat meminta kajian yg lebih realistis. Jangan diset maksimum semuanya indikatornya, kalau diset maksimum kan hasilnya maksimum,” ujarnya.

Meskipun mengharapkan adanya penurunan status, Pastika menegaskan pihaknya tak ingin mencelakakan rakyat.

Berdasarkan adanya alat deteksi dini dengan peralatan yg canggih, semestinya kemungkinan erupsi mampu dideteksi lebih awal dan cepat diinformasikan, serta masyarakat cepat diungsikan.

Dia menyampaikan keadaan sosial, budaya dan intelegensia masyarakat sekarang telah berbeda dan tak dapat disamakan saat terjadi erupsi Gunung Agung pada 1963.

“Waktu itu korban banyak kenapa? Karena alat komunikasi tak ada, alat deteksi tak lengkap, alat transportasi nggak ada, jalan masih rusak, dan keadaan masyarakat juga berbeda dengan sekarang. Kalau dahulu mungkin karena kepercayaan, malah ada nggak mau pergi,” katanya.

Pastika menambahkan bahwa 26 Oktober 2017 mulai diadakan pertemuan koordinasi kembali. Selain itu, Menko Maritim sudah meminta PVMBG bagi melakukan kajian kembali dan harus ada “second opinion” dengan memperhatikan berbagai dampak status Awas.

“Faktanya memang kegiatan (gempa-red) menurun, cuma disebutkan lagi cadangan magma di bawah sekian. Okelah cadangan magma sekian, kalau tak naik kan nggak apa-apa, kalaupun naik kan ada waktu. Kalau ada tanda-tanda mau naik, kasih tahu dong, kan ada alatnya. Bukan aku ngeyel, tapi ini akibatnya panjang,” ucap Pastika.

Editor: AA Ariwibowo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com

Post Author: admin