Jawaban Ketua DPR Saat Ditanya Soal Maraknya Perdagangan Anak

JAKARTA, – Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Bambang Soesatyo, artis Nafa Urbach, dan penyanyi dangdut Cita Citata menghadiri acara diskusi di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Minggu (18/3/2018).

Dalam acara tersebut, Nafa Urbach sempat menyinggung soal maraknya perdagangan anak di bawah umur dan menanyakan sikap Dewan Perwakilan Rakyat terhadap hal tersebut.

“Banyak anak di bawah umur dijual dan menjadi pelacur di bawah umur. Sebabnya, karena ekonomi. Tanggapan Bapak Bambang dan Dewan Perwakilan Rakyat seperti apa?” ujar Nafa di Kopi Johny, Jakarta, Minggu (18/3/2018).

Menanggapi pertanyaan itu, Bambang menyampaikan bahwa negara melalui Undang-Undang Dasar 1945 sudah menegaskan bahwa anak-anak Indonesia berhak mendapatkan layanan pendidikan, kesehatan, pangan, dan papan secara layak.

Baca juga: Bambang Soesatyo Sebut Dewan Perwakilan Rakyat Akan Dukung KPK Terkait Kasus Bakamla

Bambang mengakui bahwa negara belum dapat memenuhi tuntutan ekonomi warga negaranya secara keseluruhan.

“Sehingga, itu menjadi perhatian yg kami sedang perjuangkan. Nah, yg mampu kami lakukan adalah perberat hukuman untuk pelaku perdagangan anak,” kata pria yg akrab disapa Bamsoet itu.

Ia juga meminta agar seluruh aparat penegak hukum di berbagai daerah harus bekerja maksimal dan melakukan penindakan secara tegas terhadap perdagangan manusia, khususnya anak-anak di bawah umur.

Sebab, perdagangan anak-anak di bawah umur sangat mengancam generasi muda Indonesia selaku penerus bangsa.

“Hal ini juga salah satu yg merusak moral generasi muda kita. Kalau generasi muda kami telah rusak maka masa depannya juga mulai rusak,” ujar Bambang.

Dengan demikian, kata dia, menjaga keutuhan generasi muda Indonesia harus menjadi prioritas dengan menjaga anak-anak agar tumbuh sehat serta memiliki layanan pendidikan, kesehatan, sandang, pangan, dan papan yg layak.

Bambang juga tidak menutup mata saat keadaan masyarakat yg miskin memaksa orang buat menjual anaknya demi kepentingan ekonomi.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-210346665559669319-411’); });

“Misal, di Jawa Tengah ada daerah miskin yg mengandalkan pertanian sehingga ketika musim kemarau paceklik, sering dia pinjam dari tengkulak, bandar, calo, bayarannya adalah anak yg disayangi,” ucapnya.

Baca juga: Di Depan Fadli Zon, Bamsoet Sebut Dewan Perwakilan Rakyat Akan Beri Sri Mulyani Penghargaan

Jika orang tersebut tidak bisa melunasi pinjamannya, terkadang orangtua merelakan anak-anaknya buat dimanfaatkan demi kepentingan ekonomi.

“Mereka anggap bagi masa depan anaknya, padahal begitu masuk dalam kehidupan asusila maka anak itu mulai rusak dan tak milik masa depan,” tuturnya.

Oleh karena itu, Bambang mengatakan, perdagangan anak yaitu catatan utama di Dewan Perwakilan Rakyat dan mulai dituangkan dalam Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) yg sedang dibahas ketika ini.

Di sisi lain, Bambang mengungkapkan, ketika ini Dewan Perwakilan Rakyat sedang fokus pada pembahasan RKUHP, yg salah satunya menyinggung pelecehan anak dan perempuan.

Bambang menyadari bahwa hukuman yg diberikan kepada para pelaku pelecehan seksual cenderung masih ringan.

“Kami menyadari hukuman ke pelaku masih ringan, tuntutannya juga ringan. Kita mulai jamin RKUHP mampu beri hukuman yg lebih berat,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat berkomitmen melindungi anak dan perempuan dari pelecehan seksual. Sebab, anak-anak dan perempuan yaitu tanggung jawab negara buat melindunginya.

TV Bamsoet menegaskan Dewan Perwakilan Rakyat mulai meminta kepada Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat buat koordinasi dalam melakukan penyelidikan.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112’); });

Sumber: http://nasional.kompas.com

Post Author: admin