Makna Ziarah Kubur Di Hari Lebaran

JAKARTA, – Ismet (45) duduk bersimpuh di tanah. Tangan kanannya menyentuh bunga-bunga yg ada di makam ayahnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Joglo, Kembangan, Jakarta Barat.

Dengan posisi seperti itu, pria yg tinggal di Cisuak, Serpong, Tangerang Selatan itu kelihatan khusyuk melafalkan doa di dalam hati buat almarhumah ayahnya yg meninggal dua tahun silam.

Masih di makam yg sama, tepat di depan Ismet ada Amin (32) bersama putranya. Dia juga kelihatan merapalkan doa di dalam hati.

Pria yg tinggal di Ciledug itu adalah saudara ipar Ismet. Dia tiba bersama isteri dan kedua anaknya.

“Sudah menjadi tradisi, setiap hari Lebaran pertama atau kedua, kalian sekeluarga yg terdiri dari delapan orang anak pasti kumpul di kompleks TPU ini. Kami tunggu-tungguan di sini,” ucap Ismet yg yaitu anak kedua dari 8 bersaudara ini kepada , Jumat (15/6/2018).

Selain nyekar atau mengunjungi makam ayah pada Hari Raya Idul Fitri pertama, Ismet sekeluarga dan 7 keluarga saudaranya juga mengunjungi makam ibu mereka di TPU Joglo. Lokasinya pun tidak jauh dari makam ayah mereka.

Tak cuma Ismet dan keluarga, pada Hari Pertama Lebaran ini ada banyak keluarga yang lain di TPU itu yg mengunjungi makam anggota keluarga mereka.

Suasana Hari Pertama Lebaran Jumat (15/6/2018) di TPU Jogol, Kembangan, Jakarta BaratMikhael Gewati Suasana Hari Pertama Lebaran Jumat (15/6/2018) di TPU Jogol, Kembangan, Jakarta Barat

“Setiap Lebaran pertama atau kedua aku bersama isteri, kedua anak dan ibu pasti nyekar ke makam ayah, kakek dan nenek di TPU Joglo,” kata Yudha (37), yg tinggal di Lumajang, Jawa Timur.

Hal yg sama dikatakan Muniroh. Bersama kedua anaknya, warga Bekasi itu juga ziarah ke makam almarhum suaminya yg meninggal 2 tahun lalu.

Tak cuma di hari Lebaran, ibu yg memakai kerudung merah dan berpakaian hitam itu mengaku hampir setiap bulan mengunjungi makam alamarhum sang suami.

Berkembang dari Zaman Walisongo

Bagaimana munculnya tradisi ziarah kubur di hari Lebaran? Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia, Nur Syam, di website pribadinya nursyam.uinsby.ac.id menjelaskan, tradisi ziarah kubur di masyarakat muslim Indonesia sebenarnya sudah terjadi saat Islam akan berkembang di Nusantara.

“Walisongo adalah orang yg pertama mengembangkan tradisi nyekar atau ziarah kubur di Nusantara,” tulis Nur Syam.

Sebenarnya, kata dia, tradisi nyekar telah ada dari zaman kerajaan Hindu atau Buddha, tapi kemudian memperoleh sentuhan baru yg bersesuaian dengan ajaran Islam.

Menurut dia, dalam Islam sendiri ziarah kubur semula dilarang oleh Nabi Muhammad SAW, saat akidah umat Islam belum kuat karena takut merusak akidah mereka.

Kenapa mampu merusak?

Ini karena tradisi ziarah kubur pada masa pra-Islam ditandai dengan adanya permohonan kepada arwah orang yg meninggal. Hal itu tentu sama dengan penyembahan terhadap arwah leluhur yg pada masa itu banyak dijumpai di berbagai belahan dunia.

“Namun karena semakin kuatnya akidah umat Islam, maka Nabi Muhammad SAW kemudian membolehkan umatnya buat ziarah kubur,” ujar Nur Syam.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam usai pertemuan koordinasi terbatas terkait perkembangan perkara First Travel, di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (29/8/2017)./Kristian Erdianto Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam usai meeting koordinasi terbatas terkait perkembangan perkara First Travel, di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (29/8/2017).

Maka, kata dia, saat Islam masuk ke wilayah yg memiliki kesamaan tradisi ziarah kubur, posisinya saling mengisi.

Lalu apa relasi ziarah makam, puasa dan Hari Raya Lebaran?

Guru Besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya itu mengatakan, relasi ziarah dengan puasa dan Lebaran adalah sebagai prosesi mengingat kematian atau dzikr al maut.

Itu berkaitan karena puasa sendiri, menurut dia, adalah sarana buat tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa, sementara Idul Fitri yaitu momentum saling memohon ampunan kepada sesama. Maka, ziarah adalah prosesi mengingat dzikr al maut.

“Dengan demikian, saat orang telah melakukan ritual puasa, ritual ampunan sesama manusia maka dikerjakan ritual menziarahi kubur para ahli kuburnya, sehingga lengkaplah telah tindakan kerohanian, keduniawian dan relasi di antara keduanya,” kata Nur Syam.

Tak cuma itu, pria yang berasal Tuban Jawa Timur itu mengatakan, bila ziarah kubur di hari kemenangan mengandung makna tindakan eskatologis, mau ke mana akhirnya manusia itu. Atau bahasa sederhananya adalah sebagai momentum mengingat akhir kehidupan manusia.

“Jadi betapapun seseorang memiliki kekayaan, relasi sosial, jabatan dan kekuasaan, serta kekayaan rohani yg luar biasa saat di dunia. Namun yg jelas ke lubang kubur itu akhirnya,” kata dia.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112’); });

Sumber: http://nasional.kompas.com

Post Author: admin