Media, Teroris, Dan Simbiosis Mutualisme

JAKARTA, – Pemberitaan mengenai terorisme terus mendapat tempat di media, sekecil apapun peristiwanya. Bahkan, penemuan bom panci yg belum meledak pun menjadi berita yg selalu menerus “digoreng” oleh pewarta.

Di sisi lain, para teroris ternyata menikmati pemberitaan media tersebut. Sorotan publikasi dianggap sebagai eksistensi kelompok mereka. Meski secara kualitas kecil, mereka tetap mulai diekspos dan diperhatikan masyarakat karena peran media.

Anggota Dewan Pers Nezar Patria menganggap hal tersebut seperti simbiosis mutualisme. Hubungan yg saling menguntungkan. Gambar-gambar aksi teror yg muncul di televisi maupun lewat foto mulai menampilkan imaji yg membangun persepsi masyarakat.

Anggota Dewan Pers Nezar Patria/dani prabowo Anggota Dewan Pers Nezar Patria

“Dengan serangan kecil, dengan expose media yg besar, mulai kelihatan menakutkan. Ada persepsi ancaman,” kata Nezar dalam short course yg diselenggarakan AIDA di Jakarta, Kamis (25/1/2018).

Nezar mengakui isu terorisme dianggap lebih “seksi” oleh media ketimbang wabah flu ataupun kecelakaan di jalan raya. Padahal, jumlah korbannya jauh lebih besar.

Baca juga: Dalam Tiga Hari, 19 Terduga Teroris Diamankan

Teroris, kata dia, juga sengaja mencari tempat keramaian seperti pusat kota buat menimbulkan dampak ketakutan yg lebih besar. Tentu saja dengan memanfaatkan publikasi media.

Ia mencontohkan bom di kawasan MH Thamrin pada awal 2016 lalu. Aksi teroris di tempat itu bukan tanpa perhitungan yg matang.

Pemilihan tempat di pusat ibu kota, pemilihan waktu pada pagi hari, telah dipertimbangkan dengan cermat buat mencapai tujuan mereka.

“Dalam rangka menarik perhatian besar dan mengguncang ibukota. Dan media pasti mulai beramai-ramai ke sana. Kalau ke tempat yang lain kurang menarik perhatian,” kata Nezar.

Menurut dia, pemberitaan di media mulai menentukan besar atau kecilnya skala ancaman. Oleh karena itu, ia meminta pers tak memberitakan peristiwa terorisme secara berlebihan dan berulang-ulang karena mulai menimbulkan ketakutan buat masyarakat.

Jika ada ledakan bom atau aksi teror, media harus memikirkan apa yg layak diberitakan. Jika beritanya diangkat berlebihan dan diulas sepanjang hari, kata Nezar, justru mulai bermanfaat buat teroris.

Baca juga: Jadi Sopir Panggilan, Terduga Teroris di Malang Jarang Pulang

“Mereka membutuhkan media agar pesan mereka tersebar. Jangan sampai kalian digunakan buat kepentingan penyampaian pesan aksi teror,” kata dia.

Media pun dapat mencegah teroris memperbesar dampak aksi mereka melalui pemberitaan. Oleh karena itu, Nezar meminta media hindari pemberitaan yg berpotensi mempromosikan dan memberi legitimasi terhadap tindakan terorisme dan membesar-besarkan sosok teroris tertentu. Glorifikasi semacam itu, kata dia, yaitu hal yg ditunggu-tunggu teroris.

“Dengan kekuatannya bagi mempengaruhi publik melalui informasi, media justru harus menyadarkan publik bahaya terorisme itu,” kata Nezar.

Dewan pers juga sudah mengeluarkan pedoman peliputan terorisme melalui Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan–DP/IV/2015. Nezar mengatakan, pedoman tersebut utama agar wartawan terus berpegang pada kode etik jurnalistik, di samping soal kebenaran peristiwa.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-210346665559669319-411’); });

Ada 13 poin dalam pedoman yg disusun Dewan Pers. Pertama, wartawan terus menempatkan keselamatan jiwa sebagai prioritas di atas kepentingan berita. Kedua, wartawan terus menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan jurnalistik.

Baca juga: Baku Tembak di Bima, Dua Terduga Teroris Tewas

Ketiga, wartawan harus menghindari pemberitaan yg berpotensi mempromosikan dan memberikan legitimasi maupun glorifikasi terhadap tindakan terorisme maupun pelaku terorisme.

Keempat, wartawan dan media penyiaran dalam membuat siaran segera tak melaporkan secara terinci atau detil peristiwa pengepungan dan upaya aparat dalam melumpuhkan tersangka terorisme.

Kelima, wartawan dalam menulis atau menyiarkan berita terorisme harus berhati-hati agar tak memberikan atribusi, gambaran, atau stigma yg tak relevan, misalnya dengan menyebut agama yg dianut atau kelompok etnis pelaku.

Keenam, wartawan harus terus menyebutkan kata ”terduga” terhadap orang yg ditangkap oleh aparat keamanan karena tak segala orang yg ditangkap oleh aparat secara otomatis adalah pelaku tindak terorisme.

Ketujuh, wartawan wajib menghindari mengungkap rincian modus operandi tindak pidana terorisme seperti cara merakit bom, komposisi bahan bom, atau teknik memilih sasaran dan lokasi yg bisa memberi inspirasi dan memberi pengetahuan buat para pelaku baru tindak terorisme.

Baca juga: Polri: Anggota JAD Terduga Teroris di Cirebon Berbaiat ke ISIS

Kedelapan, wartawan tak menyiarkan foto atau adegan korban terorisme yg berpotensi menimbulkan kengerian dan pengalaman traumatik. Kesembilan, wartawan wajib menghindari peliputan keluarga terduga teroris buat mencegah diskriminasi dan pengucilan oleh masyarakat, kecuali dimaksudkan buat menghentikan tindakan diskriminasi yg ada dan mendorong agar ada perhatian khusus.

Sepuluh, terkait dengan kasus-kasus yg mampu menimbulkan rasa duka dan kejutan yg menimpa seseorang, pertanyaan dan pendekatan yg dikerjakan buat merekonstruksi kejadian dengan menemui korban keluarga korban maupun keluarga pelaku harus dikerjakan secara simpatik dan bijak.

Sebelas, wartawan dalam memilih pengamat sebagai narasumber wajib terus memperhatikan kredibilitas, kapabilitas dan kompetensi terkait latar belakang, pengetahuan, dan pengalaman narasumber yg relevan dengan hal-hal yg mulai memperjelas dan memberikan gambaran yg utuh terhadap fakta yg diberitakan.

Dua belas, dalam hal wartawan menerima undangan meliput sebuah tindakan aksi terorisme, wartawan perlu memikirkan ulang bagi melakukannya. Jika terkait dengan rencana aksi pengeboman atau aksi bom bunuh diri sebaiknya wartawan tidak perlu memenuhinya karena mampu dipandang sebagai cara memperkuat pesan teroris dan mengindikasikan ada kerja sama dalam sebuah tindakan kejahatan.

Terakhir, wartawan wajib terus melakukan check dan recheck terhadap segala berita tentang rencana maupun tindakan dan aksi terorisme ataupun penanganan aparat hukum terhadap jaringan terorisme bagi mengetahui apakah berita yg ada cuma sebuah isu atau cuma sebuah balon isu (hoax) yg sengaja dibuat buat menciptakan kecemasan dan kepanikan.

TV Setelah sempat disomasi, Alfian Tanjung, siang tadi mendatangi dewan pers dan bertemu dengan Nezar Patria, terkait pernyataannya yg menyebut Nezar anggota PKI dan pernah melakukan meeting di istana. Dalam pernyataannya, Alfian mengakui Nezar bukan anggota PKI dan tak pernah terkait dengan kegiatan istana. Sebelumnya, Alfian juga sudah dilaporkan ke polisi oleh Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, karena sudah menyebutnya kadang menggelar pertemuan PKI di lingkungan istana.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112’); });

Sumber: http://nasional.kompas.com

Post Author: admin