Pajak Penulis Dituding Hambat Pertumbuhan Literasi Di Indonesia

Bogor – Kebijakan pemerintah menerapkan pajak sebesar 15 persen terhadap royalti para penulis buku dituding bisa menghambat pertumbuhan literasi di Indonesia, demikian disampaikan CEO Mizan Yadi Saeful Hidayat.

“Menurut aku ini (pajak penulis) harus menjadi concern pemerintah, kenapa tempat hiburan tak dikenai pajak, anehnya penulis yg justru memperkaya anak-anak dalam mempersiapkan generasi muda dikenai pajak,” kata Yadi di Bogor, Minggu.

Yadi menyampaikan pajak penulis dinilai cukup besar, hal ini yg membuat beberapa penulis seperti Tere Liye dan Dee Lestari bersuara karena kebijakan tersebut mencekik penulis.

“Pajak 15 persen dari royalti itu terlalu besar, belum lagi mereka harus membayar pajak lainnya seperti penghasilan di akhir tahun dan penjenjangan tarif (progresif),” kata Yadi.

Ia menyampaikan minat literasi di kalangan generasi muda Indonesia selalu bertumbuh, banyak anak-anak di daerah yg pandai menulis dan mengikuti kompetisi penulis cilik yg diselenggarakan oleh Dirjen Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Mizan.

Anak-anak yg berkompitisi tersebut tergabung dalam komunitas Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) Dari Mizan. Karya yg menjuarai Apresiasi Sastra Sekolah Dasar mulai diterbitkan oleh Mizan.

“Anak-anak ini kecil-kecil telah milik karya, dan setiap buku yg mereka terbitkan mendapatkan royalti,” kata Yadi.

Saat ini pemerintah berupaya menumbuhkan literasi dan kesusastraan Indonesia di kalangan generasi muda. Tetapi adanya kebijakan Pajak Penulis mampu menghambat pertumbuhan literasi tersebut.

“Kita berharap kebijakan dikaji ulang, karena ini kepentingannya bagaimana menumbuhkan, memajukan dan memperkaya literasi Indonesia. Saya kira masalah pajak ini harus dipertegas lagi,” kata Yadi.

Menurut Yadi sejumlah penerbit dan penggiat literasi sudah menyuarakan soal kebijakan tersebut. Bahkan telah bertemu dengan Menteri Keuangan serta Dirjen Pajak bagi merevisi aturan tersebut agar lebih adil.

“Kita berkaca pada Malaysia yg menghapus kebijakan pajak penulis ini, dan beberapa negara seperti Jerman nilai pajaknya kecil tak sebesar di Indonesia,” kata Yadi. 

Editor: Gilang Galiartha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com

Post Author: admin