Pembelaan 8 WN Taiwan Penyelundup 1 Ton Sabu-sabu Yang Merasa Ditipu…

JAKARTA, – Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut delapan warga negara Taiwan yg menjadi terdakwa masalah penyelundup satu ton sabu-sabu dengan hukuman mati.

Jaksa menilai para terdakwa melanggar Pasal 114 Ayat 2 juncto Pasal 132 Ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Atas tuntutan tersebut, kedelapan tersangka dan tim penasihat hukum mengatakan nota pembelaan mereka dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (29/3/2018).

Satu dari delapan terdakwa bahkan menulis surat bertulisan mandarin. Ia adalah Juang Jin Sheng, awak kapal Wanderlust yg mengantar sabu ke Anyer, Banten.

Jin Sheng bercerita, ia sudah menjadi pengangguran sejak pabrik perkapalan tempatnya bekerja bangkrut. Sementara itu, kedua orangtuanya sakit parah.

Baca juga : Merasa Ditipu, Terdakwa Penyelundupan 1 Ton Sabu-sabu Minta Keringanan Hukuman

“Ibu ayah aku sakit, butuh operasi, terutama ayah menderita kanker. Saya dan abang aku sama-sama berjanji mulai menanggung biaya operasi,” kata Jin Sheng sebagaimana diterjemahkan penerjemah.

Jin Sheng dan kakaknya sudah berupaya meminjam uang kepada teman-teman mereka.

Saat itu, teman lamanya menawari pekerjaan menjadi anak buah kapal. Tanpa menanyakan kejelasan pekerjaan itu, Jin Sheng segera menerima tawaran teman lamanya demi mendapatkan uang bagi pengobatan orangtua.

Pekerjaan itulah yg kemudian membawanya menjadi terdakwa penyelundup satu ton sabu-sabu.

Selama mendekam di balik jeruji besi, Jin Sheng mengaku terus memikirkan kesehatan kedua orangtuanya.

Dia pesimistis mampu bertemu lagi dengan kedua orangtuanya yg sakit, mengingat dia dan tujuh terdakwa lainnya dituntut hukuman mati.

Baca juga : Pengacara Minta 8 WN Taiwan Penyelundup 1 Ton Sabu-sabu Tak Dihukum Mati

“Selama ditahan sembilan bulan, aku terus khawatir memikirkan keadaan kesehatan ayah dan ibu. Saya tak tahu masih ada atau tak kesempatan buat ketemu ayah ibu,” ujarnya.

Jin Sheng mengaku menyesal. Ia juga tidak tahu barang yg diangkut di kapal Wanderlust adalah sabu-sabu. Ia meminta majelis hakim memberikan putusan yg lebih ringan dari tuntutan jaksa.

Merasa ditipu 

Tak cuma Jim Sheng, tujuh terdakwa lainnya juga meminta putusan yg lebih ringan. Mereka juga mengaku tak mengetahui barang yg harus diantar ke Indonesia itu adalah sabu-sabu. Mereka merasa ditipu.

“Saya awalnya ditipu, disebut yg mulai diangkut produk pertanian. Setelah kejadian, aku sangat menyesal,” ujar seorang terdakwa, Kuo Chun Yuan.

Baca juga : Terdakwa 1 Ton Sabu-sabu: Saya Khawatir Kesehatan Ayah Ibu…

Terdakwa lainnya, Liao Guan Yu, berharap majelis hakim yg menangani kasus mereka memberikan putusan yg adil. Mereka adalah tulang punggung keluarga.

“Saya berharap majelis hakim dapat menjatuhkan putusan yg adil,” ucap Guan Yu.

Minta tidak dihukum mati

Tim penasihat hukum meminta kedelapan terdakwa tak dihukum mati sebagaimana tuntutan jaksa.

Alasannya, para terdakwa tak mengetahui barang yg mereka angkut itu yaitu sabu-sabu.

“Permohonan kalian selaku penasihat hukum terdakwa kepada majelis hakim yg mulia agar kiranya menolak menjatuhkan putusan mati dan menjatuhkan putusan hukuman penjara buat para terdakwa,” ujar salah satu penasihat hukum, Eva Nurullita.

Menurut penasihat hukum, para terdakwa tak terbukti melanggar Pasal 114 Ayat 2 juncto Pasal 132 Ayat 1 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sebagaimana tuntutan jaksa.

Baca juga : Terdakwa Penyelundup 1 Ton Sabu-sabu Mengaku Butuh Uang bagi Operasi Orangtua

Terdakwa Liao Guan Yu, Chen Wei Cyuan, dan Hsu Yung Li, kata Eva, lebih tepat dikenakan Pasal 112 Ayat 2 juncto Pasal 132 Ayat 1 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, sebagaimana dakwaan subsider terakhir dari jaksa.

Sementara terdakwa Juang Jin Sheng, Sun Kuo Tai, Sun Chih-Feng, Kuo Chun Yuan, dan Tsai Chih Hung seharusnya dikenakan Pasal 115 Ayat 1 juncto Pasal 132 Ayat 1 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Penasihat hukum yg lainnya, Toto Surya, menyebut ada beberapa alasan yg mereka ajukan agar majelis hakim memberikan keringanan hukuman bagi para terdakwa.

“Di antaranya para terdakwa bersikap sopan dan kooperatif selama pemeriksaan, para terdakwa yaitu tulang punggung buat keluarganya di negara asalnya, para terdakwa belum pernah dihukum,” kata Toto.

Baca juga : Dibantu Polisi China, Polri Kembangkan Sindikat Pengedar Sabu 1,6 Ton

Setelah para terdakwa dan tim penasihat hukumnya mengatakan pembelaan atau pleidoi, jaksa mengajukan replik atau tanggapan terhadap pleidoi tersebut.

Sidang pembacaan replik mulai digelar Rabu (5/4/2018) minggu depan.

TV Dua orang pelaku pengedar sabu dalam kemasan permen ditangkap polisi. Dari tangan pelaku, polisi berhasil menyita sabu seberat 3 ons.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112’); });

Sumber: http://nasional.kompas.com

Post Author: admin