Polresta Bogor Tangkap Empat Pelaku Kasus “gladiator”

Bogor – Satuan Reskrim Polresta Bogor Kota, Polda Jawa Barat, menangkap empat orang pelaku perkara tawuran “gladiator” yg menyebabkan satu orang pelajar tewas.

“Empat pelaku kami tangkan di tiga tempat berbeda, satu orang di Jogjakarta, satu orang di Bandung dan dua orang lainnya di Bogor,” kata Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Ulung Sampur Jaya, di Mapolresta Bogor, Kamis.

Ulung menyebutkan keempat pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka masing-masing berinisial BV, MS, TB dan HK.

Ia menjelaskan, BV masih berstatus pelajar ditangkap di rumahnya di Jogjakarta. HK dan TB ditangkap di Bogor, sedangkan MS ditangkap di Bandung.

“Para tersangka ini tiga orang berstatus masih di bawah umur, cuma satu orang inisial TB yg telah tak sekolah lagi,” kata Ulung.

Ia menyampaikan keempat tersangka memiliki peran masing-masing. Seperti BV adalah pelaku yg menjadi lawan duel korban hingga korban meninggal dunia.

HK tersangka yg menyuruh dan juga melakukan duel dengan lawan lainnya, MS tersangka yg membiarkan, dan ikut serta menjadi wasit, sedangkan TB yg melakukan dan juga menempatkan atau menyuruh melakukan duel.

“Aktor intelektual masih kami dalami, bagaimana yang berasal akan kegiatan itu masih dalam penyelidikan,” kata Ulung.

Selain empat orang tersangka, Polisi masih menyelidiki Ferry berdasarkan analisi Tobing yg ketika ini masih dalam pencarian.

Keempat tersangka kini sedang dalam pemeriksaan oleh Badan Pengawasan (Bapas) setelah ditangkap kemarin, sementara itu aparat kepolisian masih selalu mendalami informasi dari para saksi lainnya.

Kasus “gladiator” menjadi viral setelah ibu korban mengatakan curahan hatinya atas kematian anaknya Hilarius Christian Even Raharjo, kepada Presiden Jokowi melalui media sosial.

Hilarius tewas usai tanding “gladiator” pada 29 Januari 2016. Awalnya masalah tersebut telah ditangani oleh kepolisian tetapi terputus karena pihak keluarga, sekolah yg dimoderatori Dinas Pendidikan sepakat buat menyelesaikan perkara secara damai.

Setelah masalah tersebut menjadi vilar melalui curhatan ibu korban. Kepolisian kembali membuka kasus. Selasa (19/9) atas persetujuan keluarga polisi melakukan pembongkaran makam buat proses autopsi.

Hasil autopsi sementara ada kerusakan organ dalam yakni hati korban robek dan benturan di hati.

Editor: Unggul Tri Ratomo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com

Post Author: admin