Polri: Ajarkan Toleransi Dengan Konteks ‘Zaman Now’ Untuk Anak Milenial

JAKARTA, – Nilai agama dan ideologi Pancasila harus disebarkan sesuai dengan konteks generasi milenial.

Hal itu agar memudahkan pemahaman generasi milenial yg kini menjadi target penting dalam penyebaran paham radikalisme.

Staf Ahli Kapolri Bidang Sosial dan Ekonomi, Inspektur Jenderal Polisi Gatot Edy Pramono menyatakan, generasi milenial gampang terpapar radikalisme karena mereka masih dalam pencarian jati dirinya.

Selain itu, paham radikalisme seringkali disebarkan dengan konten-konten yg sederhana dan gampang dimengerti oleh generasi milenial.

“Mereka (penyebar radikalisme) pada dasarnya memuat ajaran-ajaran melalui buku-buku dengan bahasa yg simpel, sederhana, menarik tak menggurui,” ujar Gatot dalam diskusi di Wisma Samadi, Jakarta, Senin (30/4/2018).

Saat ini, penyebaran paham radikalisme semakin dimudahkan di era digital dan globalisasi.

Caranya, pelaku menyebarkan konten-konten melalui wahana yg ketika ini digemari generasi milenial, merupakan media sosial.

Gatot menilai, media sosial seperti jalan tol bagi mempercepat penyebaran paham radikalisme.

“Media sosial, menjadi jalan tol suburnya radikalisme. Mereka (generasi milenial) mampu menonton video, memahami ayat-ayat suci tanpa dibimbing oleh tokoh agama yg kredibel, seperti kiai atau ulama dan sebagainya. Bahkan, mereka dapat bagi bom sendiri,” ujarnya.

Sehingga, penyebaran pesan radikalisme tidak lagi memanfaatkan ruang publik seperti kampus dan tempat ibadah, melainkan telah memasuki ranah privat.

“Ini kerawanan yg sangat perlu diantisipasi bersama-sama, di era digital” ujar Gatot.

Oleh karena itu, Gatot berharap masyarakat dan tokoh-tokoh harus mencermati lingkungannya mulai potensi radikalisme.

Sebab, selain generasi milenial, masyarakat kelas bawah juga rentan terpapar ajaran radikalisme.

“Indonesia itu upper class, middle class-nya kecil, low class-nya besar di mana sebagian besar mengutamakan emosinya dalam berpikir, saat masyarakat kelas bawah emosional mereka mampu dimanfaatkan buat kepentingan tertentu,” katanya.

Gatot menegaskan, Polri tidak dapat bekerja sendirian. Ideologi radikalisme perlu dilawan dengan nilai-nilai agama dan ideologi Pancasila.

Oleh karena itu, berbagai pihak perlu mencermati celah apa saja yg membuat seseorang tertarik masuk dalam aliran ini.

“Caranya tentunya dengan mengikutkan para kiai, ulama, tokoh agama lainnya. Mereka mulai mengarahkan kembali celah-celah pemahaman yg salah,” katanya.

Kedua, narasi radikalisme juga dapat dilawan dengan narasi nilai-nilai agama yg moderat.

Gatot mencontohkan, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menjadi dua organisasi masyarakat keagamaan yg berperan strategis

“Kita juga harus menantang radikalisme dengan nilai Pancasila,” ujarnya

Oleh karena itu, Gatot menilai narasi nilai agama dan ideologi Pancasila harus disebarkan sesuai dengan konteks generasi milenial, seperti melalui cerpen, film, buku cerita, komik dan lainnya.

“Ajarkan hidup toleransi, hidup beragam, bagaimana hidup berkeadilan. Yang utama pemahamannya disesuaikan dengan konteks ‘zaman now’ buat anak-anak milenial,” katanya.

Ia menilai, cara-cara seperti itu menjadi kontra ideologi yg sangat strategis dalam melawan penyebaran paham radikalisme.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112’); });

Sumber: http://nasional.kompas.com

Post Author: admin