Prof Jamhari: Pesantren Dapat Meniru Modernisasi Jepang

Jakarta – Inisiator program pengiriman guru agama dan pimpinan pesantren Indonesia ke Jepang Profesor Jamhari Makruf melihat banyak nilai modernisasi yg dapat ditiru dari Negeri Sakura tanpa harus kehilangan jati diri bangsa.

“Biasanya orang Islam takut sekali kalau sekolah atau pendidikannya berubah kemudian mulai ikut mengubah jati diri Islamnya. Jepang dapat memberi contoh meski berkembang menjadi negara maju dan modern, tapi nilai-nilai budaya aslinya masih tertanam dengan sangat baik,” ujar Jamhari usai acara Penyampaian Laporan Hasil Program Kunjungan Pimpinan Pesantren ke Jepang tahun 2017 di Jakarta, Kamis malam.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyebut beberapa nilai budaya Jepang yg patut dicontoh oleh sekolah dan pesantren di Tanah Air antara yang lain kebersihan, kedisiplinan, menghargai waktu, ramah dan sopan santun, saling menghormati, etos kerja yg tinggi, kreativitas dan inovasi, serta kemajuan teknologi.

Dengan mengikuti program kunjungan selama 10 hari di Jepang, guru dan pimpinan pesantren Indonesia diharapkan mampu membagikan inspirasi dan pengalamannya mengamati dan merasakan tinggal di tengah-tengah masyarakat Jepang kepada para santri di daerah yang berasal masing-masing.

Program yg bertujuan memperdalam pemahaman antara Jepang dan masyarakat Muslim Indonesia dilaksanakan setiap tahun sejak 2004 dengan pembiayaan penuh dari pemerintah Jepang.

Tahun ini, sebanyak sembilan guru dan pimpinan pesantren serta seorang pendamping dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN mengunjungi Tokyo, Hiroshima, dan wilayah Kansai bagi melakukan berbagai kegiatan antara yang lain peninjauan ke sekolah, program homestay, dan dialog lintas agama pada 3-12 Oktober.

Proses seleksi dikerjakan oleh PPIM dengan menilai pesantren-pesantren yg berpengaruh di wilayahnya, jumlah santrinya cukup banyak, kiainya dipandang oleh masyarakat sekitar, serta memiliki sekolah formal yg mampu dikembangkan.

Salah satu kisah sukses dari program kunjungan para pimpinan pesantren ke Jepang mampu dilihat dari sebuah pesantren diniyah putri di Padang Panjang, Sumatera Barat.

“Kini selain terinspirasi bagi membuat pesantrennya lebih bersih dan nyaman, pesantren tersebut sudah bekerja sama dengan sekolah di Jepang buat program pertukaran pelajar. Jadi setiap tahun beberapa santri dari Sumatera Barat dikirim ke Jepang dengan biaya mereka sendiri,” ujar Jamhari.

Kesuksesan program kunjungan pimpinan pesantren ke Jepang ternyata menarik minat guru-guru agama dari negara yang lain bagi berpartisipasi dalam program serupa.

Pada 2016 sebanyak 10 pimpinan pesantren dari Malaysia sudah mengikuti langkah Indonesia, dan ketika ini guru-guru agama dari Filipina sedang menjajaki keikutsertaan mereka buat program yg sama.

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com

Post Author: admin