Saat Wiranto Berguyon Soal Kelompok Garis Keras Dan Garis Lembek…

JAKARTA,  — Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto bercerita bahwa dirinya tidak jarang kali diundang bagi memberikan sambutan dan membuka berbagai acara seminar dan kongres.

Biasanya Wiranto cuma memenuhi undangan dari pihak-pihak yg bergerak di bidang politik, hukum, dan keamanan.

Namun, Wiranto merasa sungkan seandainya diundang oleh pihak-pihak yg bergerak di luar bidang kapasitasnya.

(Baca juga: Darmin Sebut Tarif Impor Baja AS Tantangan buat Indonesia)

Seperti hari ini, Kamis (19/4/2018), Wiranto diundang bagi membuka seminar yg digelar Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI) di Hotel Bidakara, Jakarta.

“Saya memyampaikan terima kasih dan terhormat mampu diundang. Ya, sebenarnya aku tak mau masuk wilayah orang lain. Lalu, dijelaskan visi dan misi asosiasi masyarakat baja Indonesia, aku putuskan hadir pagi hari ini,” kata Wiranto di sela-sela sambutannya.

Wiranto merasa, hari ini ia sedang berhadapan dengan kelompok garis keras. Namun, bukan kelompok garis keras secara ideologi, melainkan kelompok garis keras dari pelaku industri baja semua Indonesia.

“Saya berhadapan dengan kelompok garis keras, bukan ideologinya, melainkan produksinya keras karena baja. Kalau aku hadir di asosiasi perusahaan roti, aku bertemu masyarakat garis lembek. Ha-ha-ha,” ujar Wiranto disambut gelak tawa peserta.

(Baca juga: Malaysia Kembalikan Status Tarif Istimewa atas Ekspor Baja Indonesia)

Wiranto berpesan, industri baja Indonesia berperan strategis dalam mendukung pembangunan infrastruktur yg dikerjakan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Sebab, infrastruktur juga berperan bagi menjaga ketahanan nasional di tengah ancaman keamanan yg bersifat multidimensional.

“Kita jadi rawan. Oleh karena itu, kebijakan Presiden tepat, kalian membangun dari pinggiran buat menembus daerah-daerah terisolasi bagi mewujudkan keadilan dan kemakmuran,” ucapnya.

Dengan demikian, pembangunan jalan tol, pelabuhan, bandara, pos lintas batas, serta gedung pendidikan dan kesehatan membutuhkan dukungan industri baja nasional.

“Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia harus menolong pemerintah. Kita juga ingin industri baja dalam negeri harus kami bangkitkan, ekpor dan impor seimbang. Kalau dapat harus lebih kuat. Ini kan harus kami cermati,” ujarnya.

(Baca juga: Lebih Kuat dari Baja, Kayu Super Ini Mampu Menahan Peluru)

Ia memastikan bahwa sektor industri baja nasional sudah menjadi salah satu prioritas nasional. Jadi, ia berharap, industri baja nasional mampu mengelola kekayaan sumber daya alam Indonesia dengan bijak.

“Dalam persaingan global, industri baja yaitu industri vital. Kita tahu bahwa dagang itu, kan, bebas, tentu produksi negara yang lain mulai melebar ke mana-mana, termasuk Indunesia. Kalau kami bicara persoalan industri baja, kalian harus mandiri,” katanya.

Ia pun berharap agar pelaku usaha terus fokus pada masalah substansial. Dengan demikian, para pengusaha mampu memberikan gagasan dan solusi yg nyata, realistis, dan rasional dalam menuntaskan berbagai masalah yg dihadapi Indonesia.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112’); });

TV Jika keterangan itu benar ini yaitu kali pertama Kim Jong Un melakukan kunjungan ke luar negeri sejak berkuasa tahun 2011.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Post Author: admin