Saksi Benarkan Kepemilikan Istri-anak Setnov Di Murakabi

Jakarta – Mantan direktur penting PT Mondialindo Graha Perdana dan PT Murakabi Sejahtera Deniarto Suhartono membenarkan kepemilikan istri dan anak Setya Novanto dalam dua perusahaan itu.

“Pada Juni 2008, ada perubahan kepemilikan jadi 50 persen dipegang Deisti, aku dikasih (saham) 10 persen, sisanya ada berapa orang, karena segala kepengurusan diatur sama Heru Taher, aku tak begitu hapal,” kata Deniarto dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin.

Deniarto menjadi saksi buat terdakwa pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong yg didakwa mendapatkan keuntungan 1,499 juta dolar AS dan Rp1 miliar dalam proyek pengadaan KTP-Elektronik (KTP-E) yg seluruhnya merugikan keuangan negara senilai Rp2,3 triliun. PT Murakabi Sejahtera, salah satu perusahaan peserta proyek KTP-E dan menerima keuntungan dari KTP-E.

Jaksa selanjutnya membacakan mengenai BAP Deniarto pada 6 Juni 2016.

“Saya tak mengetahui siapa sebenarnya pemilik PT Mondialindo Graha Perdana dan PT Murakabi Sejahtera, tetapi aku berhubungan dengan Heru Taher yg aku tahu dekat dengan Setya Novanto. Setelah Heru Taher meninggal, atasan aku berganti menjadi Cypurs Antonia Tatali yg setahu aku juga dekat dengan Setya Novanto, selain itu Mondialindo dan Murakabi Sejahtera juga pernah dimiliki oleh keluarga Setya Novanto merupakan Deisti Astriani Tagor, Reza Herwindo, Dwina Michaela dan Irvanto Hendra Pambudi yg yaitu keponakan Setya Novanto pernah jadi pengurus perusahaan seperti yg aku sampaikan sebelumnya, apakah itu benar?” tanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Eva Yustisiana.

“Itu cuma berdasarkan akta yg ditunjukkan,” jawab Deniarto.

“Selanjutnya di PT Mondialindo yg berlokasi di gedung Imperium Jalan HR Rasuna Said lantai 27 juga pernah ada Setyo Lelono merupakan kakak Setya Novanto yg juga suka tiba ke situ, apa itu benar?” tanya jaksa Eva.

“Iya,” jawab Deniarto.

Menurut Deniarto, ia kenal Setya Novanto (Setnov) sekitar 2007.

“Saat itu bertemu di kafe di Grand Indonesia, diperkenalkan Pak Heru Taher tetapi ketika itu kedudukan Pak Setnov tak disebut jadi cuma kenalan saja,” ungkap Deniarto.

Baru Tahu

Meski tahu keluarga Setnov memiliki PT Mondialindo namun Deniarto baru mengetahuinya setelah melihat akta yg ditunjukkan penyidik.

“Saya sebelumnya tak aware,” kata Deniarto.

Sedangkan Deniarto bergabung dengan Murakabi juga pada 2007 ketika perusahaan itu ingin ikut tender di Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polri bagi membuat bahan baku SIM.

“Saya diberi tahu Heru Taher bahwa Mondialindo menempatkan saham di PT Murakabi, senilai 42,5 persen kalau gak salah,” jawab Deniarto.

PT Murakabi itu sendiri cuma milik satu pegawai bidang administrasi bernama Tri Anugrah alias Ipung dan seorang “office boy” bernama Sodri. Di Murakabi, Deniarto juga ditunjuk sebagai dirut bagi mengerjakan proyek-proyek IT.

Dalam dakwaan disebutkan Andi Narogong memberikan uang melalui Direktur PIAK Kemendagri Sugiharto agar diberikan kepada pejabat di Kemendagri dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat agar tiga konsorsium yg terafiliasi dengan Andi merupakan PNRI, Astagraphia dan Murakabi Sejahtera dimenangkan dalam tender KTP-E.

Konsorsium Murakabi Sejahtera terdiri atas PT Murakabi, PT Aria Multi Graphia, PT Stacopa dan PT Sisindocom.

Selain itu disebutkan juga Direktur Utama PT Avidisc Crestec Interindo, Wirawan Tanzil selaku agent dari cogent diajak Andi Narogong buat bergabung dalam konsorsium Murakabi tetapi Wirawan menetapkan buat mengundurkan diri karena menemui situasi yg beresiko tinggi dalam pelaksanaan proyek KTP-E dan mengingat PT Murakabi Sejahtera ada hubungannya dengan Setnov.

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com

Post Author: admin