35 Atlet Tujuh Negara Ikuti “training Camp” Di Magelang

Magelang – Sebanyak 35 atlet bulu tangkis dari tujuh negara mengikuti “Training Camp 2017” di Gedung Olah Raga Djarum Magelang, Jawa Tengah, pada 23 September hingga 5 Oktober 2017.

Kepala Pelatih Training Camp 2017, Christian Hadinata, di Magelang, Kamis, menyampaikan para atlet tersebut berasal dari Brasil, Bulgaria, Armenia, Georgia, Selandia Baru, Australia, dan Timor Leste.

Para atlet dari tujuh negara telah melakukan latihan fisik dan teknik di bawah asuhan mantan legenda bulutangkis Indonesia, Christian Hadinata bersama tim pelatih.

Selama tiga hari terakhir di “Training Camp 2017” diadakan mini turnamen melalui pertandingan perorangan dan dibagi dalam lima sektor, merupakan tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran.

“Training camp ini bertujuan menolong para atlet dari negara-negara yg dari sisi perbulutangkisannya masih dalam tahap mengembangkan,” katanya.

Pihaknya dibantu tim pelatih teknik dan pelatih fisik berusaha sebaik mungkin memberikan suatu kepelatihan, baik dari sisi fisiknya buat meningkatkan kualitas keterampilan mereka dan bagaimana menyusun suatu program kepelatihan, maupun tentang bagaimana melihat kebugaran para atlet.

“Saya berharap training camp di GOR Djarum Magelang ini dapat bermanfaat untuk para pelatih dari negara-negara yg tiba dan juga untuk para atletnya. Kami ingin bahwa perbulutangkisan di dunia semakin lebih merata, tak cuma dari sisi kuantitas tapi juga kualitas,” katanya.

Ia menyampaikan dalam beberapa tahun terakhir ada rumor bulu tangkis kemungkinan mulai dicabut dari salah satu cabang olahraga di pertandingan olimpiade.

“Kami sebetulnya mengantisipasi hal-hal seperti ini, kalau bulu tangkis itu cuma didominasi di salah satu benua saja, kekhawatiran itu mampu saja terjadi. Misalnya didominasi di Asia saja ini mulai membahayakan cabang olahraga bulu tangkis di Olimpiade dalam arti mungkin mulai dicabut keikutsertaannya,” katanya.

Oleh karena itu, katanya, salah satu cara buat mengantisipasi hal tersebut dengan menolong negara-negara yg perbulutangkisannya masih dalam perkembangan, supaya atlet di negara tersebut bertambah banyak, tapi kualitasnya juga meningkat.

“Saya rasa mereka juga termotivasi, kami tahu seorang Carolina Marin dari Spanyol suatu negara yg bukan negara bulu tangkis mampu menjadi juara yg hebat. Ini suatu hal yg positif buat perbulutangkisan dunia,” katanya.

Ia menyampaikan selama ini Asia paling mendominasi perbulutangkisan, termasuk Indonesia. Kalau di Eropa, negara bulu tangkis terkemuka cuma Denmark yg menjadi juara, termasuk di All England dan baru sekali meraih Piala Thomas, sedangkan di Asia telah berganti-ganti, yakni Indonesia, China, Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan.

“Hal itu menggambarkan dominasi Asia, lama-kelamaan hal itu dipandang kurang bagus dan sekarang perkembangannya jauh lebih merata, termasuk di Spanyol. Namun negara besar, seperti Amerika Serikat perkembangan bulutangkisnya juga tak terlalu menonjol. Hal itu juga harus diantisipasi karena banyak sekali cabang olahraga yg antre bagi masuk di Olimpiade,” katanya.

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com

Post Author: admin