Kendala E-Sport Lokal Bersaing Di Kancah Global

Jakarta – Industri olahraga elektronik atau e-sport sedang betumbuh pesat di dunia. Terutama di Asia yg terkenal sebagai gudang tim-tim garang turnamen e-sport taraf internasional. Meski Indonesia milik basis pemain yg besar, namun ranah e-sport di negara ini masih kurang profesional.

Channel Manager AMD International Sales and Service Ltd Anes Budiman membeberkan beberapa alasan.

Menurut dia, salah satu menjadi persoalan e-sports masih belum berkembang disebabkan olahraga elektronik ini telat tiba ke Indonesia.

“Sejak sekitar 10 tahun yg lalu, tahun 2000-an, e-sport telah ramai di luar baru tiga tahun ini saja Indonesia akan melirik,” jelas Anes Budiman ketika menjawab pertanyaan .

Dia juga menyebut banyak pihak masih mencap bermain game itu hal negatif. Padahal game ketika ini telah menjadi industri besar, mampu menghasilkan banyak uang, dan bahkan dipertandingkan di pesta olahraga besar seperti Asian Games 2018 yg lalu.

“Di luar (negeri) banyak yg menjadi atlet e-sport dengan pendapatan besar. Jadi mereka lulus SMA segera menjadi atlet e-sport. Tapi semuanya dikelola dengan profesional sampai bagi karantina buat latihan. Bahkan pola makannya juga dijaga layaknya seorang atlet,” ujarnya.

Meski demikian, data dari situs e-sport internasional newzoo.com, Indonesia memiliki 43,7 juta pemain game yg menghabiskan US$880 juta (sekitar Rp11 miliar) bagi bermain game.

Angka total ini membuat Indonesa menduduki peringkat ke-16 negara dengan pendapatan dari game terbesar di dunia.

Sebesar 56 persen di antaranya yaitu gamer laki-laki yg memakai PC/ laptop, dengan rentang usia 10-50 tahun. Sementara 44 persen sisanya adalah gamer perempuan dengan usia 10-50 tahun.

Sumber: http://teknologi.inilah.com

Post Author: admin