Imunoterapi Tumbuhkan Harapan

Jakarta – Imunoterapi, sebuah metode pengobatan kanker yg dinilai sebagai masa depan terapi dengan survival lebih panjang dari metode lainnya.

Mari mengenal lebih jauh imunoterapi dari para pakar. Imunoterapi kian menjadi perbincangan hangat dalam lingkup pengobatan kanker.

“Dalam tiga tahun terakhir ini, euforia terhadap imunoterapi memang besar sekali. Terutama saat mantan presiden Amerika Serikat sembuh dari melanoma setelah mendapat PD-1 inhibitor. Sejak itu, obat ini akan dicobakan ke berbagai macam kanker,” tutur spesialis onkologi medik Dr. dr. Andhika Rachman, Sp.PD-KHOM dari FKUI/RSCM, seperti yg dikutip dari siaran pers, Jakarta, Senin, (08/04/2019).

Imunoterapi yaitu terobosan terbaru dalam pengobatan kanker. Terapi ini memakai sistem kekebalan tubuh sendiri buat melawan sel-sel kanker.

“Tubuh memiliki sel T yg yaitu bagian dari darah putih. Darah putih ini tugasnya melawan musuh, inilah tentara dalam tubuh, tentara yg kalian miliki,” ujar dr. Jeffry B. Tenggara, Sp.PD, KHOM, konsultan Hematologi dan Onkologi Medik dari MRCCC Siloam Hospitals.

Sel darah putih milik banyak komponen seperti limfosit, basofil, fagosit, dll. Komponen yg berperan dalam melawan kanker adalah sel limfosit T dan NK cell. Tetapi, terkadang kekebalan kalian tak cukup kuat buat melawan kanker.

Kanker tumbuh secara perlahan, dan pada awalnya kekebalan tubuh manusia mampu membasmi sel kanker sebelum berkembang lebih lanjut. Seiring waktu, sel kanker bertumbuh makin cepat hingga kekebalan tubuh tak bisa lagi mengimbangi pertumbuhan kanker. Beberapa macam kanker juga memiliki mekanisme bagi menghancurkan sel limfosit T.

“Jadi, prinsip imunoterapi ini memanfaatkan mekanisme kekebalan sel-sel tubuh kalian sendiri buat melawan kankernya,” tegas dr. Jeffry.

Ada beberapa jenis metoda imunoterapi, merupakan Checkpoint Inhibitors, Cytokine Induced Killer Cell (CIK), dan Vaksin. Saat ini immunoterapi yg telah banyak dipakai adalah check point inhibitor yg salah satunya adalah anti PD-1. Mekanisme kerja dari anti-PD1 ini adalah mencegah kematian sel limfosit T akibat proses pengrusakan oleh kanker.

PD-1 adalah bagian dari sel T limfosit, yg bertugas menginduksi program pematian sel; dalam hal ini sel kanker. Secara alamiah, tubuh memiliki mekanisme buat meredakan PD-1 karena bila aktivitasnya berlebihan, justru mampu menimbulkan dampak buruk untuk tubuh.

Itu sebabnya, beberapa sel tubuh dirancang memiliki PD-L1 dan PD-L2. Bila PD-1 berikatan dengan ligan PD-L1 atau PD-L2, sel T menjadi tak aktif, sehingga tak muncul reaksi berlebihan yg tak diperlukan.

Sayangnya, mekanisme ini berhasil ditiru oleh sel kanker tertentu. Beberapa macam kanker juga mengembangkan ligan PD-L1 dan/atau PD-L2 pada permukaannya, sehingga dapat meredam aktivitas sel T. Sel kanker memang sangat pintar; ini adalah salah satu caranya menyembunyikan diri dari kejaran sistem imun.

Tidak segala kanker memiliki PD-L1. Karenanya pula, tak segala kanker mampu diterapi dengan anti PD-1. Kanker paru macam karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) atau non-small cell lung cancer (NSCLC), kanker kulit macam melanoma maligna, dan kanker ginjal termasuk yg memilikinya, sehingga mampu diterapi dengan anti PD-1.
Hadirnya anti PD-1 memberikan pilihan terapi yg lebih banyak buat pasien kanker paru, dengan efikasi yg baik.

Berdasarkan pengalaman Dr. dr. Andhika, “Pemberian obat ini meningkatkan progression-free survival hingga enam bulan.”

Progression-free survival (PFS) adalah masa selama kanker tak berkembang. Ini hal yg cukup menjanjikan, mengingat angka kesintasan (survival rate) pasien kanker paru sangat rendah.

Pun, tak segala pasien KPKBSK dapat mendapat imunoterapi anti PD-1. Sebelumnya, harus dikerjakan pemeriksaan PD-L1 pada sel kanker.

“Yang terbaik yakni bila ekspresi PD-L1 di atas 50 persen,” terang Dr. dr. Andhika.

Pada keadaan demikian, imunoterapi dikerjakan sebagai pengobatan tunggal. Namun bila ekspresi PD-L1 berkisar 1-50 persen, anti PD-1 masih mampu diberikan dengan mempertimbangkan biaya dan manfaatnya. Berdasarkan Keynote 024 perlu dikerjakan kemoterapi dahulu selama enam siklus, baru kemudian dilanjutkan dengan imunoterapi anti PD-1.

Untuk beberapa masalah yang lain seperti kanker ginjal dan melanoma maligna, imunoterapi mampu digunakan tanpa tes PDL-1 lagi karena berdasarkan penelitian terbukti hasilnya baik. Ditengarai, hampir 100% melanoma mengekspresikan PD-L1.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin