Tantangan Dan Kendala Imunoterapi

Jakarta – Saat ini kendala penting pemberian immunoterapi adalah biaya yg sangat mahal hingga mencapai ratusan juta rupiah.

Dengan demikian, pemberiannya terbatas pada pasien dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Tanpa imunoterapi saja, pengobatan kanker telah sangat mahal.

“Kanker membuat individu menjadi tak produktif, dan biaya pengobatannya mulai menguras keuangan,” kata Spesialis onkologi medik Dr. dr. Andhika Rachman, Sp.PD-KHOM dari FKUI/RSCM, Jakarta, seperti yg dikutip dari siaran pers, Jakarta, Senin, (08/04/2019).

Selain itu belum banyak macam kanker yg mampu dibuktikan mulai baik dengan pemberian immunoterapi. Saat ini imunoterapi yaitu metode pengobatan kanker yg masih tergolong baru, dan berbagai pusat penelitian di segala dunia sedang mengumpulkan data angka keberhasilan bagi digunakan pada berbagai jenis kanker.

“Penggunaan imunoterapi harus mengacu pada guideline yg baku, dan tak boleh digunakan di luar itu kecuali dalam kerangka penelitian medis, dan dokter harus mengikuti standar prosedur yg baku,” tegas dr. Jeffry

Ia melanjutkan, kebutuhan imunoterapi di Indonesia sangat besar, apalagi ini dinilai sebagai pengobatan masa depan buat perkara kanker.

“Namun di Indonesia penggunaannya belum luas, masih terbatas, sehingga datanya belum banyak,” ujarnya.

Sebagai praktisi, dr. Jeffry berharap kehadiran imunoterapi mampu memberi kesintasan yg lebih baik.

“Harus dipahami bahwa imunoterapi bukan tanpa efek samping. Salah satunya, membuat sistem imun terlalu aktif. Padahal sistem kekebalan tubuh harus tetap seimbang. Jika terlalu berlebihan, dapat muncul efek samping seperti sesak napas pada ketika diberikan imunoterapi, dermatitis, kulitnya mampu meradang. Hal ini berdasarkan pengalaman aku di MRCCC ini,” katanya,

Hal menarik disampaikan oleh Dr. dr. Andika. Ia menemukan, imunoterapi tidak cuma meningkatkan PFS, tetapi juga membuat kualitas hidup pasien lebih baik. Secara umum, efek samping dari imunoterapi tak seberat yg ditimbulkan oleh kemoterapi. Pneumonitis (radang paru) dan radang/ruam pada kulit termasuk yg kerap muncul pada pemberian imunoterapi. Menariknya, efek samping ini tak kelihatan pada pasien-pasien Dr. dr. Andhika.

“Mungkin karena dosisnya kecil. Dosisnya itu 2 mg/kg berat badan. Bobot pasien Indonesia rata-rata rendah, jadi dosis yg diberikan cuma sekitar 100 mg,” paparnya.

Pasiennya yg diterapi dengan obat ini tetap dapat beraktivitas, tanpa keluhan efek samping. Selain itu, pemberian anti PD-1 di Indonesia juga relatif singkat.

“Biasanya cuma delapan sampai dua belas kali, karena harga obatnya sangat mahal,” imbuhnya.

Sedangkan di negara maju, penggunaan anti PD-1 dapat sampai dua tahun, hingga penyakit kembali muncul.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin